Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 November 2017

Mendulang Pahala Saat Tidur

Mendulang Pahala Saat Tidur


Allah Ta’ala sungguhlah sangat Pengasih dan Penyayang. Rabbul Izzah tak pernah segan melimpahkan pahala kepada para hamba-Nya bahkan di saat para hamba tersebut tengah terlelap sekalipun. Tidur yang merupakan aktivitas pelepas lelah ternyata dapat menjadi sebuah ibadah. Betapa nikmatnya tidur menghilangkan penat kemudian menjadi amalan pendulang pahala. 

Kita seringkali mendengar bahwa di Bulan Ramadhan tidur pun menjadi ibadah. Padahal ini tak hanya berlaku di bulan puasa saja melainkan setiap hari setiap kali kita tidur. Bagaimana bisa tidur yang nikmat itu dapat menjadi ibadah? Jawabannya karena adanya sunnah Rasulullah yang dapat dilakukan setiap kali hendak tidur. 

Sedikitnya ada lima amalan sunnah yang dapat dilakukan sebelum kita terlelap. Sunnah disini maksudnya yakni rutinitas yang biasa dilakukan Rasulullah selama hidup beliau. Dengan melakukan amalan sunnah ini maka bukan hanya mengikuti Rasulullah namun juga menyimpan banyak pahala. Berikut kelima sunnah tersebut.

  • 1.Berwudhu

Wudhu yang biasanya dilakukan sebelum shalat, dilakukan pula sebelum tidur. Alasan melakukan ini yakni agar kita dalam keadaan suci saat tidur. Seandainya kita menemui ajal saat tidur, maka kita meninggal dalam keadaan suci. Selain itu, sunnah ini juga dapat melindungi kita dari gangguan syaithan dan mengantarkan kita pada mimpi yang baik.

Dari Al Bara bin Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah kamu sebagaimana wudhumu untuk shalat," (HR.Al Bukhari dan Muslim). 

Saat terbangun di tengah malam, Nabiyullah Muhammad pun berwudhu kembali. Sebagaimana dalam hadits dari Ibnu Abbas. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan, "Rasulullah terjaga di suatu malam lalu beliau menunaikan hajatnya kemudian membasuh wajah dan tangannya (berwudhu) lalu tidur," (HR. Al Bukhari dan Abu Dawud). 

  • 2.Membersihkan Tempat Tidur


Sunnah berikutnya yakni membersihkan tempat tidur dengan cara mengibaskannya. Hal ini termasuk adab tidur yang menjadikan tidur kita lebih bernilai pahala di sisi Allah. Padahal, fungsi membersihkan tempat tidur semata-mata karena kebaikan hamba agar terhindar bahaya dibalik tempat tidur. Bisa saja disana terdapat binatang melata ataupun serangga berbahaya yang dapat menyengat kapan saja saat kita terlelap.

Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian beranjak menuju tempat tidurnya, maka hendaklah dia mengibas (membersihkan) tempat tidurnya karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

  • 3.Menghadap ke Kanan


Sudah menjadi sunnah Rasulullah untuk tidur menghadap kanan atau lebih tepatnya tidur di atas lambung kanan. Beliau pun memerintahkan kebiasaan tidur ini kepada umat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Muhammad bersabda, “Lalu tidurlah di atas lambungmu yang kanan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Kebiasaan nabiyullah ini ditujukan agar lebih mudah saat bangun di pagi hari. Di era modern kini diketahui bahwa cara tidur demikian sangatlah baik untuk kesehatan tubuh terutama dalam sistem pencernaan.Lagi-lagi, sunnah yang sebetulya memiliki manfaat untuk hamba justru dapat menjadi amalan berpahala.

  • 4.Menaruh Tangan di Pipi


Sunnah berikutnya yakni menaruh tangan sebagai alas pipi ketika tidur. Inilah yang menjadi kebiasaan Rasulullah sebagaimana dikabarkan shahabat Hudzaifah. Beliau menceritakan, “Apabila tidur di malam hari, Rasulullah meletakkan tagan beliau di atas pipi.” (HR. Al Bukhari).

  • 5.Berdoa dan Berdzikir


Yang terakhir yakni berdoa dan berdzikir jangan sampai luput dibaca sebelum tidur. Ada beberapa lafadz dzikir sebelum tidur. Adapun berdoa sebagaimana yang telah terkenal dan dihafal sejak kecil, yang artinya, “Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan dengan menyebut namamu aku mati (tidur),” (HR. Muslim dan Ahmad).

Banyak hadits yang menyebutkan perihal dzikir Rasulullah sebelum tidur. Beberapa diantaranya yakni mengucapkan tasbih sebanyak 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir sebanyak 34 kali. Selain itu juga berdzikir dengan membaca tiga surat perlindungan, yakni Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas.

Ummul Mukminin Aisyah mengabarkan, “Apabila Rasulullah akan tidur, beliau meniup kedua tangan beliau dan membaca mu’awwidzat (ayat-ayat perlindungan) lalu mengusap dengan itu keseluruh jasadnya,” (HR. Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dwud, Ibnu Majah).

Dalam hadits lain yang juga dari ummul mukminin, diterangkan bahwa Rasulullah membaca surat tersebut kemudian mengusap tubuh.Caranya yakni dengan menghimpun kedua telapak tangan kemudian meniupnya dan membaca tiga surat tersebut. Selepas itu, usaplah dengan tangan ke seluruh tubuh dimulai dari kepala, wajah kemudian bagian depan tubuh. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Selain disebut diatas, masuh beragam doa dan dzikir Rasulullah ketika hendak tidur. Cukuplah yang telah disebutkan sebagai pendulang pahala hingga membuat tidur kita layaknya ibadah.

Terimakasih anda baru saja membaca artikel yang judul "Mendulang Pahala Saat Tidur"
Semoga bermanfaat
Resource : MuslimahDaily.com

Jumat, 24 November 2017

Nama Nama Bayi Perempuan Islami Yang Ada Dalam Al Quran

Nama Nama Bayi Perempuan Islami Yang Ada Dalam Al Quran


Nama Bayi Islam,- Kali ini admin akan membahas tentang nama-nama bayi perempuan islami yang indah beserta artinya yang berada dalam Al-qur'an yang bisa kita jadikan referensi untuk memberikan nama bagi buah hati kita kelak nanti.

Nama adalah seperti do'a yang disematkan oleh orang tua secara tidak langsung. Sebuah nama sekilas terdengar sebagai sesuatu yang remeh dan hanya difikir hanya sebuah panggilan saja, sehingga terkadang kita sering menjumpai ada orang yang namanya baik dan  bagus berubah jadi jelek dan buruk dikarekan mereka hanya menganggap nama itu hanya sebagai sebuah panggilan yang tidak bermakna.

Orang tua setiap kali memberikan nama kepada anaknya itu tidak hanya asal memberi nama saja, tapi mereka akan mencarikan sebuah nama yang bagus dan baik karena mereka menaruh harapan kepada anaknya agar kelak menjadi seperti apa yang terkandung dalam arti sebuah nama tersebut.

Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya agar ketika mereka memiliki buah hati agar diberikan sebuah nama yang indah dan bagus makna atau artinya, tidak boleh asal indah sebuah nama tapi jelek maknanya, karena ada sebuah nama yang indah pengucapannya tapi jelek maknanya seperti : Asiah (durhaka), Abdul Hajar (hamba batu), 'Asi (yang durhaka) dan masih banyak yang lainnya.

Nama Nama Bayi Perempuan Islami Yang Ada Dalam Al Quran

Kitab suci Al qur'an selalu bisa memberikan sebuah inspirasi bagi kaum muslimin, baik inspirasi dalam bersosial yang baik, inspirasi membangun keluarga yang sakina mawadda, sampai bisa memberikan inspirasi dalam memberikan sebuah nama yang indah dan bagus artinya untuk buah hati kita.

Daftar nama-nama bayi perempuan islam dan artinya dibawah ini bisa anda cek kebenarannya dalam al-qur'an kalau nama-nama itu memang ada, nanti akan kami tunjukkan disurat mana ayat berapa dari sebuah nama yang kami utarakan agar pembaca bisa langsung mengoreksi dan tahu kebenarannya. Dan perlu pembaca ketahui!, rangkaian nama bayi perempuan islam yang diambil dari al-qur'an terbagi menjadi dua: yaitu ada yang disebutkan secara langsung dan tidak langsung. Yang pertama kita bisa menemukan nama-nama tersebut langsung di dalam ayat-ayat Al Quran, sedangkan yang tidak langsung biasanya hanya akar katanya saja yang terdapat di dalam Al Quran.

73 Rangkaian Nama Bayi Perempuan Islami Yang Indah Yang Ada Dalam Al Quran

No Nama Arti Surat/Ayat
1 Adna Terdekat Quran 53:9
2 Afida Hati, hati nurani Quran 16:78
3 Aghnia Kaya Quran 2:273
4 Aizza Yang perkasa, dihormati dan mulia Quran 5:54
5 Aliah Tinggi Quran 69:21-22
6 Amana/Amanah Kepercayaan, dapat dipercaya Quran 33:72
7 Amani Berharap, harapan Quran 4:123
8 Aminah Aman Quran 16:112
9 Asma Nama-nama Quran 20:8
10 Auliya Sekutu, Teman Quran 10:62
11 Daniya Dekat Quran 76:14
12 Fida Untuk membebaskan tawanan Quran 47:4
13 Hafizah Pelindung Quran 33:35
14 Hasanah Amal Kebaikan Quran 27:89
15 Hilya Perhiasan Quran 16:14
16 Husna Itu yang terbaik, amal baik, indah Quran 10:26
17 Ilmi Pengetahuan Quran 11:47
18 Izzah Kehormatan, harga diri dan martabat Quran 35:10
19 Jannah Surga Quran 13:35
20 Kalimah Kata Quran 6:115
21 Kamila Lengkap dan tanpa kekurangan, dewasa Quran 2:196
22 Khalisa Khusus, mulia, segar, murni Quran 7:32
23 Laila Malam Quran 44:3
24 Lulu Mutiara Quran 55:22
25 Madina Kota, Madinah Quran 36:20
26 Mafaza Sukses Quran 3:188
27 Maghfirah Ampunan Quran 67:12
28 Maimana/Maimunah Berkah, kemudahan dan kurangnya kesulitan Quran 56:8
29 Maisara Berkelapangan, kurangnya kesulitan Quran 2:280
30 Marfuah Tinggi, luhur Quran 80:11-14
31 Maryam Ibunda Nabi Isa Quran 57:27
31 Marhama Rahmat, kasih sayang Quran 90:17
32 Marufa Baik, adat Quran 24:53
33 Marwah Nama tempat di Mekah Quran 2:158
35 Marzia/Mardiah Yang diridhai-Nya Quran 89:28
36 Mawiza/Mauidhah Nasihat Quran 3:138
37 Milla Doktrin Quran 2:135
38 Mubsira Terampil, tajam, cerdas Quran 27:13
39 Muhita Meliputi, sadar, pengetahuan tentang Quran 29:54
40 Muminah Orang beriman Quran 33:36
41 Muslimat Muslim perempuan Quran 33:35
42 Mutmainah Yang tenang Quran 89:27
43 Nafilah Hadiah Quran 21:72
44 Naimah Lembut, halus Quran 88:8
45 Najwa Bisikan, percakapan pribadi Quran 58:7
46 Nawa Benih Quran 6:95
47 Nazira/Naadhirah Senang, gembira Quran 75:22
48 Nazra Suka cita Quran 76:11
49 Nida Panggilan Quran 19:3
50 Nimah Nikmat Quran 35:3
51 Nuha Rasa, kecerdasan Quran 20:54
52 Nur Cahaya Quran 39:69
53 Qanitat/Qanita Yang taat, orang saleh Quran 33:35
54 Rahma Quran 10:57
55 Ruhama Yang baik dan penyayang Quran 48:29
56 Sabira Sabar Quran 8:66
57 Safa Bukit di Mekah Quran 2:158
58 Sakinah Ketenangan Quran 48:4
59 Salihat/ Soleha, Saliha Amal Kebaikan Quran 2:277
60 Salwa Penghiburan, pembawa kebahagiaan Quran 20:80
61 Shifa Penyembuh, pemulih Quran 10:57
62 Tasmia Menyebut nama Quran 53:27
63 Ulya Tertinggi Quran 9:40
64 Urwah Pengangan tangan (tali) Quran 31:22
65 Uswah Contoh, model, pola Quran 33:21
66 Wahidah Satu, Unik Quran 31:28
67 Wardah Bunga, ros Quran 17:43
68 Yusra Mudah Quran 87:8
69 Zahra Bunga Quran 20:131
70 Zakiya/Zakiah Murni, baik Quran 18:74
71 Zuha Pagi, pertengahan pagi, pagi hari Quran 20:59
72 Zulfaa Dekat Quran 38:25
73 Zulfah Dekat Quran 67:27


Itu tadi 73 nama bayi perempuan islam yang indah yang ada dalam al qur'an, semoga bermanfaat dan menjadi referensi bagi ayah dan dan bunda ketika mau memberikan nama bayi perempuan islami bagi sibuah hatinya.

Jangan lupa untuk berbagi jika dirasa artikel ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang lain, bagi kerabat dan keluarga yang lain. Tinggal dishare dengan mengklik icon dibawah artikel ini sesuai selerah pembaca.

Baru saja anda membaca artikel dengan judul"Nama Nama Bayi Perempuan Islami Yang Ada Dalam Al Quran" semoga bermanfaat.
Jangan lupa temukan artikel yang menarik lainnya disini Daftar Isi Blog

Senin, 05 September 2016

Persiapan Menuju Pernikahan Menurut Islam

Persiapan Menuju Pernikahan Menurut Islam

Kiat-Kiat Menuju Pelaminan

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula” [QS. An Nur: 26].

Sungguh indah ikatan suci antara dua orang insan yang pasrah untuk saling berjanji setia menemani mengayuh biduk mengarungi lautan kehidupan. Dari ikatan suci ini dibangun keluarga bahagia, yang dipimpin oleh seorang suami yang shalih dan dimotori oleh seorang istri yang shalihah. Mereka mengerti hak-hak dan kewajiban mereka terhadap pasangannya, dan mereka pun memahami hak dan kewajiban mereka kepada Allah Ta’ala. Kemudian lahir dari mereka berdua anak-anak yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Cinta dan kasih sayang pun tumbuh subur di dalamnya. Rahmat dan berkah Allah pun terlimpah kepada mereka. Inilah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, samara kata orang. Inilah model keluarga yang diidamkan oleh setiap muslim tentunya.

Tidak diragukan lagi, bahwa untuk menggapai taraf keluarga yang demikian setiap orang harus melewati sebuah pintu, yaitu pernikahan. Dan usaha untuk meraih keluarga yang samara ini hendaknya sudah dimulai saat merencanakan pernikahan. Pada tulisan singkat ini akan sedikit dibahas beberapa kiat menuju pernikahan Islam yang diharapkan menjadi awal dari sebuah keluarga yang samara.

Berbenah Diri Untuk Mendapatkan Yang Terbaik

Penulis ingin membicarakan 2 jenis manusia ketika ditanya: “Anda ingin menikah dengan orang shalih/shalihah atau tidak?”. Manusia jenis pertama menjawab “Ya, tentu saja saya ingin”, dan inilah muslim yang masih bersih fitrahnya. Ia tentu mendambakan seorang suami atau istri yang taat kepada Allah, ia mendirikan shalat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ia menginginkan sosok yang shalih atau shalihah. Maka, jika orang termasuk manusia pertama ini agar ia mendapatkan pasangan yang shalih atau shalihah, maka ia harus berusaha menjadi orang yang shalih atau shalihah pula. Allah Azza Wa Jalla berfirman yang artinya: “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula” [QS. An Nur: 26]. Yaitu dengan berbenah diri, berusaha untuk bertaubat dan meninggalkan segala kemaksiatan yang dilakukannya kemudian menambah ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan manusia jenis kedua menjawab: “Ah saya sih ndak mau yang alim-alim” atau semacam itu. Inilah seorang muslim yang telah keluar dari fitrahnya yang bersih, karena sudah terlalu dalam berkubang dalam kemaksiatan sehingga ia melupakan Allah Ta’ala, melupakan kepastian akan datangnya hari akhir, melupakan kerasnya siksa neraka. Yang ada di benaknya hanya kebahagiaan dunia semata dan enggan menggapai kebahagiaan akhirat. Kita khawatir orang-orang semacam inilah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai orang yang enggan masuk surga. Lho, masuk surga koq tidak mau? Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?’. Beliau bersabda: “Yang taat kepadaku akan masuk surga dan yang ingkar terhadapku maka ia enggan masuk surga” [HR. Bukhari]

Seorang istri atau suami adalah teman sejati dalam hidup dalam waktu yang sangat lama bahkan mungkin seumur hidupnya. Musibah apa yang lebih besar daripada seorang insan yang seumur hidup ditemani oleh orang yang gemar mendurhakai Allah dan Rasul-Nya? Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Keadaan agama seorang insan tergantung pada keadaan agama teman dekatnya. Maka sudah sepatutnya kalian memperhatikan dengan siapa kalian berteman dekat” [HR. Ahmad, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani]

Bekali Diri Dengan Ilmu

Ilmu adalah bekal penting bagi seseorang yang ingin sukses dalam pernikahannya dan ingin membangun keluarga Islami yang samara. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu agama tentunya. Secara umum, seseorang perlu membekali diri dengan ilmu-ilmu agama, minimal ilmu-ilmu agama yang wajib bagi setiap muslim. Seperti ilmu tentang aqidah yang benar, tentang tauhid, ilmu tentang syirik, tentang wudhu, tentang shalat, tentang puasa, dan ilmu yang lain, yang jika ilmu-ilmu wajib ini belum dikuasai maka seseorang dikatakan belum benar keislamannya. Lebih baik lagi jika membekali diri dengan ilmu agama lainnya seperti ilmu hadits, tafsir al Qur’an, Fiqih, Ushul Fiqh karena tidak diragukan lagi bahwa ilmu adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Renungkanlah firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” [QS. Al Mujadalah: 11]

Secara khusus, ilmu yang penting untuk menjadi bekal adalah ilmu tentang pernikahan. Tata cara pernikahan yang syar’I, syarat-syarat pernikahan, macam-macam mahram, sunnah-sunnah dalam pernikahan, hal-hal yang perlu dihindari, dan yang lainnya.

Siapkan Harta Dan Rencana

Tidak dapat dipungkiri bahwa pernikahan membutuhkan kemampuan harta. Minimal untuk dapat memenuhi beberapa kewajiban yang menyertainya, seperti mahar, mengadakan walimah dan kewajiban memberi nafkah kepada istri serta anak-anak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” [HR. Ahmad, Abu Dawud].

Namun kebutuhan akan harta ini jangan sampai dijadikan pokok utama sampai-sampai membuat seseorang tertunda atau terhalang untuk menikah karena belum banyak harta. Harta yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (mensyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” [HR. Bukhari].

Disamping itu, terdapat larangan bermewah-mewah dalam mahar dan terdapat teladan menyederhanakan walimah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya” [HR. Ahmad]. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga, berdasarkan hadits Anas Bin Malik Radhiyallahu’anhu, ketika menikahi Zainab Bintu Jahsy mengadakan walimah hanya dengan menyembelih seekor kambing [HR. Bukhari-Muslim].

Selain itu rumah tangga bak sebuah organisasi, perlu manajemen yang baik agar dapat berjalan lancar. Maka hendaknya bagi seseorang yang hendak menikah untuk membuat perencanaan matang bagi rumah tangganya kelak. Misalnya berkaitan dengan tempat tinggal, pekerjaan, dll.

Pilihlah Dengan Baik

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius : nikah, cerai dan ruju’ ” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali Nasa’i). Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Kriteria yang paling utama adalah agama yang baik. Setiap muslim atau muslimah yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami atau istri yang baik agamanya, ia memahami aqidah Islam yang benar, ia menegakkan shalat, senantiasa mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan memilih istri yang baik agamanya “Wanita dikawini karena empat hal : ……. hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”. [HR. Bukhari- Muslim]. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga mengancam orang yang menolak lamaran dari seorang lelaki shalih “Jika datang kepada kalian lelaki yang baik agamanya (untuk melamar), maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah].

Selain itu ada beberapa kriteria lainnya yang juga dapat menjadi pertimbangan untuk memilih calon istri atau suami:
  • Sebaiknya ia berasal dari keluarga yang baik nasabnya (bukan keluarga pezina atau ahli maksiat)
  • Sebaiknya ia sekufu. Sekufu maksudnya tidak jauh berbeda kondisi agama, nasab dan kemerdekaan dan kekayaannya
  • Gadis lebih diutamakan dari pada janda
  • Subur (mampu menghasilkan keturunan)
  • Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan jika engkau pandang…” [HR. Thabrani]
  • Hendaknya calon istri memahami wajibnya taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf
  • Hendaknya calon istri adalah wanita yang mengaja auratnya dan menjaga dirinya dari lelaki non-mahram.

Shalat Istikharah Agar Lebih Mantap

Pentingnya urusan memilih calon pasangan, membuat seseorang layak untuk bersungguh-sungguh dalam hal ini. Selain melakukan usaha, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Dan salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala perkara sebagaimana beliau mengajarkan Al Qur’an” [HR. Bukhari].

Datangi Si Dia Untuk Nazhor Dan Khitbah

Setelah pilihan telah dijatuhkan, maka langkah selanjutnya adalah Nazhor. Nazhor adalah memandang keadaan fisik wanita yang hendak dilamar, agar keadaan fisik tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk melanjutkan melamar wanita tersebut atau tidak. Terdapat banyak dalil bahwa Islam telah menetapkan adanya Nazhor bagi lelaki yang hendak menikahi seorang wanita. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian meminang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah” [HR. Abu Dawud].

Namun dalam nazhor disyaratkan beberapa hal yaitu, dilarang dilakukan dengan berduaan namun ditemani oleh mahrom dari sang wanita, kemudian dilarang melihat anggota tubuh yang diharamkan, namun hanya memandang sebatas yang dibolehkan seperti wajah, telapak tangan, atau tinggi badan.
Dalil-dalil tentang adanya nazhor dalam Islam juga mengisyaratkan tentang terlarangnya pacaran dalam. Karena jika calon pengantin sudah melakukan pacaran, tentu tidak ada manfaatnya melakukan Nazhor.

Setelah bulat keputusan maka hendaknya lelaki yang hendak menikah datang kepada wali dari sang wanita untuk melakukan khitbah atau melamar. Islam tidak mendefinisikan ritual atau acara khusus untuk melamar. Namun inti dari melamar adalah meminta persetujuan wali dari sang wanita untuk menikahkan kedua calon pasangan. Karena persetujuan wali dari calon wanita adalah kewajiban dan pernikahan tidak sah tanpanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan keberadaan wali” [HR. Tirmidzi]

Siapkan Mahar

Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah mahar, atau disebut juga mas kawin. Mahar adalah pemberian seorang suami kepada istri yang disebabkan pernikahan. Memberikan mahar dalam pernikahan adalah suatu kewajiban sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban” [QS. An Nisa: 24]. Dan pada hakekatnya mahar adalah ‘hadiah’ untuk sang istri dan mahar merupakan hak istri yang tidak boleh diambil. Dan terdapat anjuran dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk tidak terlalu berlebihan dalam mahar, agar pernikahannya berkah. Sebagaimana telah dibahas di atas.

Setelah itu semua dijalani akhirnya sampailah di hari bahagia yang ditunggu-tunggu yaitu hari pernikahan. Dan tali cinta antara dua insan pun diikat.

Belum Sanggup Menikah?

Demikianlah uraian singkat mengenai kiat-kiat bagi seseorang yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nah, lalu bagaimana kiat bagi yang sudah ingin menikah namun belum dimampukan oleh Allah Ta’ala? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang belum mampu menikah hendaknya menjaga kesucian diri mereka sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya” [QS. An Nur: 33]. As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Yaitu menjaga diri dari yang haram dan menempuh segala sebab yang dapat menjauhkan diri keharaman, yaitu hal-hal yang dapat memalingkan gejolak hati terhadap hal yang haram berupa angan-angan yang dapat dikhawatirkan dapat menjerumuskan dalam keharaman” [Tafsir As Sa’di]. Intinya, Allah Ta’ala memerintahkan orang yang belum mampu untuk menikah untuk bersabar sampai ia mampu kelak. Dan karena dorongan untuk menikah sudah bergejolak mereka diperintahkan untuk menjaga diri agar gejolak tersebut tidak membawa mereka untuk melakukan hal-hal yang diharamkan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga menyarakan kepada orang yang belum mampu untuk menikah untuk banyak berpuasa, karena puasa dapat menjadi tameng dari godaan untuk bermaksiat [HR. Bukhari-Muslim]. Selama masih belum mampu untuk menikah hendaknya ia menyibukkan diri pada hal yang bermanfaat. Karena jika ia lengah sejenak saja dari hal yang bermanfaat, lubang kemaksiatan siap menjerumuskannya. Ibnul Qayyim Al Jauziyah memiliki ucapan emas: “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘An Ad Dawa Asy Syafi, hal. 109). Kemudian senantiasa berdoa agar Allah memberikan kemampuan untuk segera menikah.

Wallahul Musta’an.

Terimakasih anda baru saja membaca artikel yang berjudul "Persiapan Menuju Pernikahan Menurut Islam".
Semoga Bermanfaat
At Tauhid edisi V/20
Penulis: Yulian Purnama