Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Desember 2017

AWAS! TERHADAP MANUSIA ‘PEMAKAN BANGKAI’

AWAS! TERHADAP MANUSIA ‘PEMAKAN BANGKAI’


Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian menggunjing satu dengan yang lain. Apakah salah seorang dari kalian senang apabila dia memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, maka tentunya kalian membencinya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hujurat : 12).

Ayat yang mulia ini memberikan pelajaran penting kepada kita, diantaranya :

Pelajaran Pertama:

Menggunjing atau ghibah merupakan dosa besar. Hal itu dikarenakan Allah menyerupakan perbuatan ghibah itu dengan memakan daging bangkai manusia sementara perbuatan itu termasuk dosa besar. Demikian papar Syaikh as-Sa’di rahimahullah (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 802)

Pelajaran Kedua:

Hadits ini menunjukkan bahwa apabila seseorang menyebutkan kejelekan saudaranya ketika dia tidak hadir maka itu adalah perbuatan ghibah.

Hal itu sebagaimana telah dijelaskan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah kalian tahu apa yang dimaksud dengan ghibah?”. Maka mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau mengatakan, “Yaitu kamu menceritakan tentang saudaramu yang dia tidak senangi.” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana kalau apa yang saya katakan itu benar ada pada diri saudaraku?”. Maka beliau menjawab, “Kalau padanya terdapat apa yang kau katakan maka sungguh kamu telah menggunjingnya. Dan apabila tidak ada seperti yang kamu katakan maka itu berarti kamu telah berdusta atas namanya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Birr wa as-Shilah wa al-Aadab, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Sedangkan apabila dia menyebutkan kejelekan itu di depannya secara langsung maka itu berarti dia telah mencelanya. Namun, apabila ghibah itu dilakukan dalam rangka nasehat -misalnya menyebutkan kejelekan periwayat hadits- atau menerangkan keadaan orang ketika diperlukan -misal ketika dimintai pendapat sebelum menjalin pernikahan dengan seseorang- maka hal itu tidak mengapa (lihat Syarh Riyadhus Shalihin [4/79]).

Pelajaran Ketiga:

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa menjaga lisan agar tidak menggunjing merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Dan ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang tidak bisa menjaga lisannya dari ucapan-ucapan yang jelek – salah satunya adalah ghibah- menunjukkan bahwa ketakwaannya rendah (lihat Syarh Riyadhus Shalihin [4/79]).

Ketakwaan yang muncul secara lahir, dengan ucapan atau perbuatan itu pada hakikatnya merupakan cerminan apa yang ada di dalam hati.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demikian itu, karena barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu muncul dari ketakwaan di dalam hati.” (QS. al-Hajj : 32).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata-kata baik atau diam.” (HR. Bukhari dalam Kitab al-Adab dan Muslim dalam Kitab al-Iman dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “..pokok keimanan itu tertanam di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan hati. Ia mencakup pengakuan yang disertai pembenaran dan rasa cinta dan ketundukan. Sedangkan apa yang ada di dalam hati pastilah akan tampak konsekuensinya dalam perbuatan anggota badan. Apabila dia tidak melakukan konsekuensinya maka itu menunjukkan bahwa iman itu tidak ada atau lemah. Oleh karena itu maka amal-amal lahir itu merupakan konsekuensi dari keimanan di dalam hati. Ia merupakan pembuktian atas apa yang ada di dalam hati, tanda dan saksi baginya. Ia merupakan cabang dari totalitas keimanan dan bagian dari kesatuannya. Walaupun demikian, apa yang ada di dalam hati itulah yang menjadi pokok/sumber bagi apa-apa yang muncul pada anggota-anggota badan…” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah [2/175] as-Syamilah).

Mari Jaga Lisan Kita

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim adalah yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang yang benar-benar berhijrah adalah yang meninggalkan segala perkara yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari no 10).

Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa para Sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Islam manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari no 11 dan Muslim no 42)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yaitu orang yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari lisan dan tangannya.” Maknanya adalah orang yang tidak menyakiti seorang muslim, baik dengan ucapan maupun perbuatannya. Disebutkannya tangan secara khusus dikarenakan sebagian besar perbuatan dilakukan dengannya.” (lihat Syarh Muslim [2/93]).

Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Maksud hadits ini adalah bahwa kaum muslimin yang paling utama adalah orang yang selain menunaikan hak-hak Allah ta’ala dengan baik maka dia pun menunaikan hak-hak sesama kaum muslimin dengan baik pula.” (lihat Fath al-Bari [1/69])

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 38).

Pada suatu ketika Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berwasiat kepada putranya Abdurrahman. Beliau berkata, “Wahai putraku, aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah. Kendalikanlah lisanmu. Tangisilah dosa-dosamu. Hendaknya rumahmu cukup terasa luas bagimu.” (lihat az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 30)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Demi Allah yang tiada sesembahan yang benar selain-Nya. Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih butuh dipenjara dalam waktu yang lama selain daripada lisan.” (lihat az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 26)

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, beliau berkata, “Sesuatu yang paling layak untuk terus dibersihkan oleh seorang hamba adalah lisannya.” (lihat az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 27)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berpesan, “Jauhilah oleh kalian kebiasaan terlalu banyak berbicara.” (lihat az-Zuhd li Ibni Abi ‘Ashim, hal. 28)

Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata, “Persedikitlah ucapan kecuali dari sembilan perkara; Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallaah, Allahu akbar, membaca al-Qur’an, memerintahkan sesuatu yang ma’ruf, melarang perkara yang mungkar, meminta kebaikan, atau berlindung dari keburukan.” (lihat ar-Rauh wa ar-Raihan, hal. 18)

Ibnul Mubarak dan Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd, dari Hasan al-Bashri rahimahullah. Beliau mengatakan sebuah ucapan yang menakjubkan, “Lisan seorang yang bijak itu terletak di belakang hatinya. Apabila dia ingin berbicara maka dia kembali kepada hatinya. Apabila ucapan itu mendatangkan kebaikan maka dia pun berbicara. Namun, apabila ucapan itu justru akan merugikan/berbahaya baginya maka dia pun menahannya. Adapun orang yang jahil/bodoh itu hatinya berada di pangkal lidahnya; sehingga dia tidak pernah kembali menilik ke dalam hati. Apa saja yang mampir di lidahnya, maka dia pun mengucapkannya.” (lihat ar-Rauh wa ar-Raihan, hal. 22)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah kami akan dihukum akibat segala yang kami ucapkan?”. Beliau pun menjawab, “Ibumu telah kehilangan engkau wahai Mu’adz bin Jabal! Bukankah yang menjerumuskan umat manusia tersungkur ke dalam Jahannam di atas hidungnya tidak lain adalah karena buah kejahatan lisan mereka?!” (HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir [20/127-128], disahihkan sanadnya oleh Syaikh Abdullah bin Yusuf al-Judai’ dalam ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 27)

Al-Laits bin Sa’ad rahimahullah menceritakan: Suatu ketika orang-orang melewati seorang rahib/ahli ibadah. Lantas mereka pun memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka pun mengulanginya dan memanggilnya kembali. Namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, “Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?”. Maka dia pun keluar menemui mereka dan berkata, “Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 32)

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Terimakasih anda baru saja membaca artikel yang judul "AWAS! TERHADAP MANUSIA ‘PEMAKAN BANGKAI’"
Semoga bermanfaat

Rabu, 29 November 2017

3 Jenis Cinta Yang Menyeret Pelakunya ke Neraka

3 Jenis Cinta Yang Menyeret Pelakunya ke Neraka


Ada tiga jenis cinta. Yang masing-masing dapat membawa pelakunya pada pahala ataupun dosa. Meski pada hakikatnya cinta adalah sebuah ibadah, namun dalam kehidupan manusia ternyata cinta dapat membuat petaka.

Jika salah merasakan cinta, maka kelak di akhirat cinta itu akan menyeret si pecinta ke neraka. Oleh karena itu, perasaan cinta mestilah tak ditujukan pada sesuatu yang salah apalagi haram. Dilansir dari muslimahdaily.com Berikut cinta "haram" yang harus dihindari.
  • Mahabbah Syirkiyyah

Yakni cinta yang mengandung kesyirikan. Cinta ini menandingi cinta kepada Allah. Si pecinta menuhankan cintanya kepada selain Allah.

Allah berfirman, "Dan di antara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman sangat besar kecintaannya kepada Allah," (QS. Al Baqarah : 165).

Berhati-hatilah jika mencintai sesuatu. Jangan sampai cinta itu setara atau bahkan melebihi cinta kepada Allah. Tentu ini tak hanya berlaku bagi berhala, dewa, Yesus ataupun sesuatu yang dituhankan manusia. Namun ini termasuk pula jikalau kita mencintai segala sesuatu melebihi cinta kepada Allah, baik itu harta, anak atau bahkan pasangan.


Ancaman bagi pecinta jenis ini bukan lain adalah neraka jahannam yang kekal abadi. Sebagaimana kelanjutan ayat diatas, yakni diakhir ayat 167, Allah berfirman, "dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka."

  • Mahabbah Muharromah


Mahabbah muharromah atau cinta yang diharamkan atau cinta maksiat. Cinta jenis ini merupakan rasa cinta yang ditujukan pada orang kafir, musyrikin, munafiqin, pelaku bid'ah dan lain-lain dari kalangan pelanggar agama Allah. Bahkan tak hanya pelakunya, namun juga perbuatannya. Jika mencintai perbuatan syirik, kafir, nifaq, bid'ah ataupun larangan syariat, maka termasuk cinta jenis ini.

  • Mahabbah Thabi'iyyah


Jenis cinta yang ketiga yakni mahabbah thabi'iyyah atau cinta tabiat. Cinta jenis ini tidaklah haram melainkan mubah. Akan tetapi, hukum mubah ini dapat berubah menjadi haram jika rasa cinta terlalu berlebihan. Cinta ini ditujukan pada pasangan, orang tua, anak, sahabat dan lain sebagainya yang menjadi tabiat manusia untuk mencintai orang-orang tersebut. Disebut tabiat karena cinta ini merupakan sebuah perangai ataupun perasaan yang sudah menjadi fitrah manusia. Allah menciptakan manusia dengan segala perasaan cinta ini. Oleh karena itu, cinta ini hukumnya mubah alias dibolehkan atau sah-sah saja.

Kapan cinta tabiat ini menjadi haram, sebagaimana dijelaskan pada jenis cinta pertama, yakni ketika cinta tabiat ini melebihi porsinya. Jika cinta tabiat ini melebihi cinta kepada Allah dan RasulNya, maka pelakunya akan berdosa dan terancam neraka.

Allah berfirman, "Katakanlah, 'jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, dan sanak saudara kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugian nya dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik," (QS. At Taubah : 24).

Ibnu Katsir menafsirkan kalimat "maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya" dengan azab. Maksudnya, yakni tunggulah hukuman yang akan menimpa kalian. Sebuah hukuman berat akan diberikan pada para pelaku cinta tabiat yang berlebihan hingga menandingi cinta kepada Allah.


Oleh karena itu, berhati-hati lah dalam mencinta. Meski cinta itu indah namun dapat menjerumuskan kita pada azab. Patokannya hanya satu, yakni rasa cinta kita semestinyalah tak melebihi cinta kepada Allah. Rasa cinta kita semestinyalah muncul karena cinta kepada Allah.

Terimakasih anda baru saja membaca artikel yang judul "3 Jenis Cinta Yang Menyeret Pelakunya ke Neraka"
Semoga bermanfaat

Sabtu, 25 November 2017

Adab Dan Cara Minum Menurut Rasulullah SAW

Adab Dan Cara Minum Menurut Rasulullah SAW

Jauh sebelum manusia menemukan beragam minuman multivitamin penjaga stamina tubuh, berabad silam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan teladan sempurna perihal minum. Dalam paparan hadits dijelaskan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai minuman yang dingin dan manis. Aisyah Radhiyallahu anha menuturkan.

كَانَ أَحَبُّ الشَّرَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحُلْوَ الْبَارِدَ

Minuman yang paling disukai Rasulullah ialah yang dingin dan manis. [1]

Penuturan Aisyah di atas memiliki beberapa ihtimal (kemungkinan). Bisa jadi, yang dimaksud ialah air yang dicampur madu, rendaman kismis ataupun kurma, sebagaimana tercantum dalam riwayat Muslim berikut.

َعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ

Dari Ibnu Abbas Radhiyalahu ‘anhu, ia berkata,”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dibuatkan rendaman kismis dalam satu bejana, kemudian beliau minum rendaman tersebut pada hari itu, juga esok harinya dan keesokannya harinya. Pada sore hari ketiga beliau memberi minuman tersebut kepada yang lain, jika masih ada yang tersisa , beliaupun menuangnya.” [2]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengungkapkan dalam kitab Zaaduul Ma’ad, jika dua sifat dingin dan manis terhimpun dalam satu minuman, akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi tubuh, membantu proses pencernaan dan penyaluran saripati makanan dengan sempurna, mencairkan dahak, mencuci dan membasmi bibit penyakit di lambung, menetralisir sisa-sisa makanan , serta menstabilkan kehangatan lambung. Di samping itu juga sangat bermanfaat bagi hati, ginjal dan kandung kemih.

Lebih jauh lagi beliau menjelaskan, air dingin yang telah dienapkan memiliki kelembaban yang mampu menetralisir panas tubuh, sekaligus menjaga kelembabannya, serta mengganti sebagian zat yang telah terurai dari tubuh. Karena itulah Rasulullah amat menggemarinya, sebagaimana tercantum dalam riwayat Bukhari,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللَّهِ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَىرَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ وَمَعَهُ صَاحِبٌ لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ وَإِلَّا كَرَعْنَا

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah salah seorang laki-laki Anshar bersama seorang sahabatnya, seraya berkata kepadanya,”Adakah engkau mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit? Jika tidak kami akan minum langsung dari mulut kami.”

Selain memberitahukan jenis minuman yang bermanfaat bagi tubuh kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberitahukan dan melarang kita mengkonsumsi semua jenis minuman yang memabukkan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar.

كًلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَ كُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

Semua yang memabukkan itu adalah khamr. Dan semua khamr hukum haram [HR. Muslim no. 5185]

Walaupun menurut sebagian orang khamr itu bermanfaat, akan tetapi bahaya yang diakibatkan jauh lebih besar.

Itulah diantara petunjuk-petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Memerintahkan mereka untuk mengkonsumsi yang jelas halalnya dan bermanfaat serta melarang selain itu.

Disamping memberitahukan jenis minuman, Rasulullah juga memberikan tuntunan tentang adab-adab minum serta hal lain yang berkaitan dengan minum. Diantaranya:

Minum dengan terlebih dahulu membaca Bismillah. Hal ini berdasarkan hadits yang memerintahkan membaca bismillah sebelum makan. Sebagaimana tasmiyah (membaca bismillah) di sunnahkan sebelum makan, maka demikian juga hal sebelum minum. (Syarah Shahih Muslim juz 13 hal. 189) Syaitan akan menjauhi makanan dan minuman yang dibacakan bismillah sebelum di konsumsi.

Minum dengan tangan kanan dan tidak menggunakan tangan kiri. Rasulullah n bersabda.

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِيْنِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِيْنِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka hendaklah dia makan dengan tangan kanannya dan apabila salah seorang diantara kalian minum maka hendaklah dia minum dengan tangan kanannya, karena syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya. [HR. Muslim no. 5233]

لاَ يَأْكُلَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِشِمَالِهِ وَلاَيَشْرَبَنَّ بِهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِهَا

Janganlah sekali-kali salah seseorang diantara kalian makan dengan tangan kirinya dan jangan pula minum dengannya. Karena syaitan makan dengan minum dengan tangan kirinya. [HR. Muslim no. 5236]

Minum dengan duduk, dan beliau melarang dengan tegas minum dalam keadaan berdiri.

Dari Abu Hurairah ia berkata Rasullah bersabda,

لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ

Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian minum dengan berdiri, jika lupa hendaklah ia memuntahkannya.[3]

Adapun riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah pernah minum dengan berdiri juga merupakan riwayat yang shahih. Namun begitu semua riwayat tersebut merupakan perbuatan Rasulullah. Sedangkan perkataan beliau lebih didahulukan daripada perbuatan beliau. Kerena perbuatan beliau terkadang menjelaskan, bahwa hal itu merupakan kekhususan bagi beliau. Wallahu a’lam.[4]

Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan makna larangan minum dalam keadaan berdiri berkata, “Bahwa larangan yang terdapat dalam hadits-hadits tersebut dibawa pengertiannya kepada hukum makruh tanzih” [Syarah Shahih Muslim juz 13 hal. 192]

Berdasarkan adab-adab diatas, kita bisa mengambil satu faidah yaitu bathilnya kebiasaan yang disuguhkan musuh Islam berupa makan dan minum sambil berdiri, dengan menggunakan tangan kiri.

Tidak bernafas di dalam gelas, dan dianjurkan untuk bernafas tiga kali ketika minum.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الْإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi melarang bernafas dalam bejana ataupun meniupnya.” [5]

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَنَفَّسُ فِي الْإِنَاءِ ثَلَاثًا

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bernafas tiga kali ketika minum.[6]

Tidak minum langsung dari mulut teko.

أَبُو هُرَيْرَةَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشُّرْبِ مِنْ فَمِ الْقِرْبَةِ أَوِ السِّقَاءِ عن

Dari Abu Hurairah ia berkata,”Rasulullah melarang minum lansung dari mulut teko ataupun qirbah (wadah minum dari kulit).” [7]

Tidak minum dengan menggunakan bejana dari emas ataupun perak, karena adanya larangan Rasulullah tentang hal tersebut.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَرِبَ فِي إِنَاءٍ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ فَإِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارًا مِنْ جَهَنَّمَ

Dari Umu Salamah Radhiyallahu ‘anha , ia berkata, Rasulullah bersabda,”Orang yang minum menggunakan wadah emas atau perak, sesungguhnya ia ibarat menelan api neraka ke dalam perutnya.” [8]

Menutup bejana air pada malam hari, tidak membiarkannya terbuka.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ غَطُّوا الْإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلَّا نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, aku mendengar Rasululah bersabda,” Tutuplah bejana-bejana dan wadah air. Karena dalam satu tahun ada satu malam, ketika itu turun wabah, tidaklah ia melewati bejana-bejana yang tak tertutup, ataupun wadah air yang tidak diikat melainkan akan turun padanya bibit penyakit.” [9]

Inilah beberapa adab yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Sebagai seorang muslim, kita berkewajiban untuk mengikuti adab-adab tersebut. Janganlah kita tergiur dengan berbagai kebiasan yang banyak di pamerkan oleh musuh Islam meskipun dihiasi dengan berbagai slogan-slogan indah. Mereka hanya ingin melihat kita ingkar kepada Rasulullah n dan ikut bersama mereka dalam kesesatan dan kedurhakaan. Mereka ingin melihat kita sengsara sementara Rasulullah sangat ingin melihat kita bahagia di dunia dan akhirat dan beliau sangat susah ketika melihat kita sengsara. Musuh-musuh Allah ini akan terus berusaha dengan berbagai cara untuk menyesatkan kita, hendaklah kita selalu waspada. Dan hanya kepada Allah kita mohon petunjuk dan perlindungan.

Wallahu a’lam bish shawab. (Nur Hasanah)
Maraji : – Zaadul Ma’ad
– Bahjatun Nazhrin

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun VII/1420H/1999M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. HR Ahmad 6/38 dan 40, At Tirmidzi dalam Al Jami’ (1896) dan dalam Asy Syamail 1/302 dengan sanad shahih. Dishahihkan oleh Al Hakim 1/337 dan disepakati oleh Adz Dzahabi.
[2]. HR Muslim
[3]. HR Muslim
[4]. Lihat keterangan Syaikh Salim Al Hilali tentang hal ini dalam Bahjatun nazhirin 2/73-74
[5]. HR At Tirmidzi (1888), Abu Daud (3728), Ibnu Majah (3428 & 3429)
[6]. HR Mutaffaqqun alaih
[7]. HR Muttafaqqun alaihi
[8]. Muttafaqqun ‘alihi.
[9]. HR Muslim.

Senin, 03 Oktober 2016

360 Tulang Rusuk KIta Perlu DiShodaqohi

360 Tulang Rusuk KIta Perlu DiShodaqohi
360 Tulang Rusuk KIta Perlu DiShodaqohi

Sudahka kita bersedekah hari ini??
Bersedekahlah walau cuma dengan mendirikan 2 rakaan sholat dhuha, karena kita punya 360 tulang rusuk yang harus selalu kita sedekahi.

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan setiap Muslim untuk mensyukuri seluruh 360  ruas tulang yang Allah ta’aala telah berikan ke dalam tubuhnya. Bentuk rasa berterimakasih itu diungkapkan dalam bentuk bersedekah untuk setiap ruas tulang tersebut. 

Dalam salah satu hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menganggap perbuatan bersedekah untuk setiap ruas tulang badan manusia sebagai setara dengan membaca tasbih (ucapan Subhanallah), tahmid (ucapan Alhamdulillah), tahlil (ucapan Laa ilaha illa Allah), takbir (ucapan Allah Akbar), memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Subhanallah…! Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan kepada ummatnya bahwa untuk bersedekah bagi setiap ruas tulang badan setiap pagi adalah cukup dengan menegakkan sholat sebanyak dua rakaat yang dikenal dengan nama Sholat Dhuha.

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat dhuha.” (HR Muslim 1181) 

Mengeluarkan sedekah untuk setiap ruas tulang badan merupakan ungkapan rasa syukur atau terimakasih kepada Allah ta’aala atas tubuh yang manusia miliki. Alangkah tidak berterimakasihnya seorang Muslim bilamana ia selama ini telah memanfaatkan tubuhnya untuk melakukan aneka aktifitas melelahkan namun tidak pernah seharipun menegakkan Sholat Dhuha. Wahai kawanku, tegakkanlah Sholat Dhuha. Tunjukkanlah rasa syukur kepada Allah ta’aala atas seluruh ruas tulang tubuh yang selama ini telah kita pakai sampai seringkali menjadi sakit dan perlu perawatan kesehatan karena lelah bekerja. Ingatlah, bahwa semakin sering kita bersyukur kepada Allah ta’aala, maka semakin banyak kenikmatan yang Allah ta’aala janjikan akan kita terima.


“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7)

Dan sebaliknya, semakin jarang kita bersyukur, apalagi jika malah bersikap kufur maka Allah ta’aala mengancam dengan azabNya yang pedih. Pengertian azab tidak perlu ditunggu di alam kubur atau di akhirat saja. Artinya, orang yang kufur ni’mat akan mendapati -cepat atau lambat- sesuatu yang asalnya merupakan ni’mat malah berubah menjadi beban atau kutukan bagi hidupnya. Contoh akan hal ini sangat banyak kita jumpai dalam realitas hidup kita. 

Kita bersepakat bahwa mengerjakan dua rakaat pada waktu dhuha bukanlah suatu perkara yang berat dan sulit. Maka, marilah kita ungkapkan rasa syukur kepada Allah ta’aala atas pemberianNya berupa 360 ruas tulang badan yang kita miliki. Marilah kita berlomba menjadi hamba-hamba Allah ta’aala yang rajin bersyukur.

“Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk setiap ruas tulang tersebut.” Para sahabat bertanya: ”Siapalah yang mampu melaksanakan seperti itu, ya Rasulullah?” Beliau bersabda: ”Dahak yang ada di masjid lalu dipendam ke tanah, dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan, maka itu berarti sudah sedekah. Akan tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR Ahmad 21920)

Semoga Bermanfaat yaa Sob.

Resource: Annida-Online.Com 

Kedudukan Akal Dalam Islam

Kedudukan Akal Dalam Islam
kedudukan akal dalam islam


Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, satu-satunya Rabb yang berhak untuk di ibadahi, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam, beserta keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang selalu mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, di antara nikmat besar yang dikaruniakan oleh Allah Ta’ala kepada kita semua adalah nikmat berupa akal sehat, yang dengannya kita bisa berfikir, dengannya kita dapat terus berinovasi menjalani kehidupan dan membangun peradaban, dan dengannya kita dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal kita. Dengan adanya akal pula kita dibedakan dari hewan. Oleh karena itu Allah Ta’ala banyak mendorong manusia supaya mau menggunakan akalnya untuk berfikir, diantaranya adalah FirmanNya (yang artinya), “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (Q.S an-Nahl:12)

Definisi akal

Secara bahasa, ‘aql (akal) bisa bermakna al-hikmah (kebijakan) atau bisa juga bermakna tindakan yang baik dan tepat. Akal juga bisa bermakna sifat, dikatakan; ‘uqila lahu shay’un’ artinya “Dijaga atau “diikat (hubisa) akalnya dan dibatasi”. [lihat kitab Lisanul ‘Arab, Muhammad ibnu Mukarram]

Sedangkan secara istilah, akal adalah daya pikir yang diciptakan Allah Ta’ala (untuk manusia) kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan oleh Allah Ta’ala. [lihat buku Syarh aqidah ahlu sunnah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas].

Islam memuliakan akal

Agama Islam adalah agama yang sangat adil dan sempurna. Agama kita memuliakan akal sehat karena kemampuan berfikir dan memahami sesuatu dengan baik merupakan anugerah yang besar dari Allah Ta’ala. Karena besarnya kemuliaan akal maka agama Islam menetapkan syariat untuk menjaga dan mengembangkan akal, diantaranya:

Islam memasukkan akal kedalam dharuriyatul khamsah yaitu 5 hal kebutuhan primer yang harus dijaga, 5 hal tersebut adalah agama, jiwa, harta, nasab (keturunan), dan akal.
Syari’at Islam mengharamkan semua yang bisa merusak akal, baik yang maknawi (abstrak) seperti perjudian, (musik) dan nyanyian, memandang sesuatu yang diharamkan, maupun yang bersifat fisik seperti khamr (minuman keras), narkoba, dan lainnya serta memberikan sanksi kepada yang melakukannya. [lihat kitab Maqasidu Syari’ah ‘Inda Ibni Taimiyah, Dr. Yusuf bin Muhammad Al-Badawi]
Agama Islam menjadikan akal sebagai salah satu syarat utama taklif (pewajiban / pembebanan dalam syari’at). Orang yang masih belum sempurna akalnya seperti anak-anak, ataupun yang memang memiliki kekurangan dalam akalnya seperti orang gila, maka gugur kewajibannya menjalankan syari’at.
Agama Islam memerintahkan umatnya untuk belajar dan menuntut ilmu, yang dengannya akal dapat lebih berkembang dan meningkat. Kemudian memberikan derajat yang tinggi bagi orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya, sebagaimana firmanNya (yang artinya), “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah:11)

Memposisikan akal sesuai kedudukannya

Meskipun agama Islam menghormati akal sehat, namun akal tetap ditempatkan di tempat yang layak sesuai dengan kedudukannya. Artinya Islam memuliakan akal namun tidak berlebih lebihan dalam memposisikannya, karena akal manusia juga memiliki keterbatasan sebagaimana penglihatan, pendengaran, serta indera manusia lainnya.

Sebaliknya, walaupun akal memiliki keterbatasan, agama Islam juga tidak meremehkan dan mencela akal serta logika yang benar. Akal yang baik justru akan menyempurnakan suatu ilmu dan amal. Intinya, sikap yang benar dalam memposisikan akal adalah bersifat pertengahan, tidak merendahkan logika dan akal sehat, dan juga tidak berlebih-lebihan sehingga menjadikan standar kebenaran agama semata-mata dari logika dan akal pemikiran manusia.

Akal membutuhkan dalil

Sepintar-pintarnya manusia dan setinggi apapun kecerdasan akal manusia, maka pasti tidak akan bisa berjalan dengan lurus tanpa bimbingan wahyu, baik al-Qur’an maupun as-Sunnah. Akal manusia ibarat sepasang mata sedangkan dalil wahyu bagaikan lentera atau cahaya. Mata tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya cahaya. Mata kita baru bisa berfungsi dengan baik dan benar jika ada cahaya. Cahaya tersebut sebagaimana kedudukan dalil wahyu (al-Qur’an dan as-Sunnah) terhadap akal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Akal tidaklah bisa berdiri sendiri, akal baru bisa berfungsi jika dia memiliki naluri dan kekuatan sebagaimana mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapatkan cahaya iman dan al-Qur’an barulah akal bisa seperti mata yang mendapatkan cahaya matahari. Jika tanpa cahaya tersebut, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu.” [Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah]

Akal yang sehat dan dalil syar’i tidak akan bertentangan

Setelah kita mengetahui bahwa akal membutuhkan dalil, maka kita juga bisa memahami bahwa akal yang sehat tidak akan pernah bertentangan atau bertolak belakang dengan dalil syar’i baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah. Karena semuanya berasal dari Allah Ta’ala Yang Maha Sempurna lagi Maha Bijaksana. Akal yang sehat adalah ciptaan Allah Ta’ala dan dalil syar’i merupakan Firman Allah Ta’ala. Maka mustahil segala sesuatu yang sama-sama bersumber dari Allah Ta’ala saling bertentangan. Imam Ibnu Qayyim al-jauziyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya mempertentangkan antara akal dengan wahyu adalah asal-usul segala kerusakan di alam semesta. Itu adalah lawan dari dakwah para rasul dari semua sisi karena mereka (para rasul) mengajak untuk mengedepankan wahyu daripada pendapat akal” [lihat kitab Mukhtashar Shawa’iqul Mursalah, Ibnu Qayyim]

Wajib mendahulukan dalil daripada akal

Jika kita sudah berusaha untuk memahami dalil syar’i dengan metode yang benar namun masih tampak bagi kita seolah-olah dalil tersebut bertentangan dengan akal, fikiran, maupun tidak sesuai dengan perasaan kita. Maka wajib bagi kita untuk mengedepankan dalil syar’i daripada akal dan perasaan kita. Karena sesungguhnya anggapan kita bahwa dalil syar’i tidak selaras dengan akal sehat bisa disebabkan karena tiga hal :

[1] Karena kurangnya ilmu kita yang menyebabkan adanya kerancuan dan syubhat bagi kita dalam memahami dalil.

[2] Dalil yang dijadikan pijakan adalah dalil yang lemah, bukan dalil yang shahih.

[3] Kita belum bisa membedakan mana yang “membingungkan akal” mana yang “tidak masuk akal”. Terkadang dalil syar’i memang bisa jadi membuat kita bingung memahaminya, namun tidak mungkin dalil syar’i tidak masuk akal sehat kita. Contohnya adalah peristiwa isra’ dan mi’raj yaitu peristiwa naiknya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ke langit ke-7 dalam waktu satu malam. Maka bisa jadi kita bingung memikirkannya, bagaimana bisa dalam satu malam saja seorang manusia tanpa teknologi canggih bisa menembus langit tertinggi. Namun hal tersebut bukanlah hal yang tidak masuk akal, bahkan hal tersebut sangat mungkin dan masuk akal karena Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan mudah bagiNya untuk mewujudkan hal tersebut.

Oleh karena itu, shahabat Nabi yang mulia ‘Ali Bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menjelaskan bahwa dalil syar’i wajib didahulukan daripada akal dan perasaan kita. Beliau berkata tentang mengusap khuf (alas kaki yang menutupi mata kaki, semacam sepatu boot), “Seandainya (tolok ukur) agama ini dengan akal maka tentu bagian bawah khuf lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku melihat Rasulullah mengusap bagian atas khuf-nya.” (HR . Abu Daud, shahih)

Tinggalkan pendapat yang menyimpang

Setelah memahami penjelasan diatas, maka hendaknya kita meninggalkan pemahaman dan pendapat yang lebih mendahulukan akal dan perasaan daripada dalil syar’i yang banyak tersebar di masyarakat. Diantaranya adalah anggapan orang-orang liberal dan orientalis bahwa syari’at Islam tidak adil, hukum Islam adalah hukum yang kejam, agama Islam tidak bisa mengatur suatu negara, bahkan mereka mengatakan bahwa al-Qur’an dan ajaran agama Islam sudah tidak relevan lagi dengan zaman ini sehingga harus direvisi. Na’udzubillahi min dzalik.

Demikian pula hendaknya kita tinggalkan pendapat-pendapat menyimpang dari para filosof, mu’tazilah, dan yang semisalnya yang beranggapan bahwa adzab kubur tidak ada, syafa’at tidak ada, penolakan dan penyelewengan mereka terhadap sebagian shifat-shifat Allah Ta’ala, pengingkaran terhadap munculnya dajjal dan turunnya nabi ‘Isa ‘alayhissalam, serta pemahaman dan perkataan mereka yang lain yang tidak bersumber dari dalil-dalil syar’i. Mudah-mudahan dengan kembalinya kita kepada al-Qur’an dan Sunnah menjadikan kita sebagai seorang muslim yang hanif dan lurus.

Penutup

Demikianlah penjelasan tentang kedudukan akal dalam agama Islam, semoga bisa menjadi pencerahan bagi kita dan membuat kita lebih taslim (menerima dan patuh) terhadap syari’at Allah Ta’ala, tunduk terhadap hukum dan aturan Islam, serta menerima segala dalil syar’i yang datang kepada kita . Wallahu a’lam.

Penulis : Nizamul Adli Wibisono, ST (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Muroja’ah : Ust. Abu Salman, BIS
Resource : https://buletin.muslim.or.id/aqidah/kedudukan-akal-dalam-islam

Senin, 05 September 2016

Persiapan Menuju Pernikahan Menurut Islam

Persiapan Menuju Pernikahan Menurut Islam

Kiat-Kiat Menuju Pelaminan

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula” [QS. An Nur: 26].

Sungguh indah ikatan suci antara dua orang insan yang pasrah untuk saling berjanji setia menemani mengayuh biduk mengarungi lautan kehidupan. Dari ikatan suci ini dibangun keluarga bahagia, yang dipimpin oleh seorang suami yang shalih dan dimotori oleh seorang istri yang shalihah. Mereka mengerti hak-hak dan kewajiban mereka terhadap pasangannya, dan mereka pun memahami hak dan kewajiban mereka kepada Allah Ta’ala. Kemudian lahir dari mereka berdua anak-anak yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Cinta dan kasih sayang pun tumbuh subur di dalamnya. Rahmat dan berkah Allah pun terlimpah kepada mereka. Inilah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, samara kata orang. Inilah model keluarga yang diidamkan oleh setiap muslim tentunya.

Tidak diragukan lagi, bahwa untuk menggapai taraf keluarga yang demikian setiap orang harus melewati sebuah pintu, yaitu pernikahan. Dan usaha untuk meraih keluarga yang samara ini hendaknya sudah dimulai saat merencanakan pernikahan. Pada tulisan singkat ini akan sedikit dibahas beberapa kiat menuju pernikahan Islam yang diharapkan menjadi awal dari sebuah keluarga yang samara.

Berbenah Diri Untuk Mendapatkan Yang Terbaik

Penulis ingin membicarakan 2 jenis manusia ketika ditanya: “Anda ingin menikah dengan orang shalih/shalihah atau tidak?”. Manusia jenis pertama menjawab “Ya, tentu saja saya ingin”, dan inilah muslim yang masih bersih fitrahnya. Ia tentu mendambakan seorang suami atau istri yang taat kepada Allah, ia mendirikan shalat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ia menginginkan sosok yang shalih atau shalihah. Maka, jika orang termasuk manusia pertama ini agar ia mendapatkan pasangan yang shalih atau shalihah, maka ia harus berusaha menjadi orang yang shalih atau shalihah pula. Allah Azza Wa Jalla berfirman yang artinya: “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula” [QS. An Nur: 26]. Yaitu dengan berbenah diri, berusaha untuk bertaubat dan meninggalkan segala kemaksiatan yang dilakukannya kemudian menambah ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan manusia jenis kedua menjawab: “Ah saya sih ndak mau yang alim-alim” atau semacam itu. Inilah seorang muslim yang telah keluar dari fitrahnya yang bersih, karena sudah terlalu dalam berkubang dalam kemaksiatan sehingga ia melupakan Allah Ta’ala, melupakan kepastian akan datangnya hari akhir, melupakan kerasnya siksa neraka. Yang ada di benaknya hanya kebahagiaan dunia semata dan enggan menggapai kebahagiaan akhirat. Kita khawatir orang-orang semacam inilah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai orang yang enggan masuk surga. Lho, masuk surga koq tidak mau? Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?’. Beliau bersabda: “Yang taat kepadaku akan masuk surga dan yang ingkar terhadapku maka ia enggan masuk surga” [HR. Bukhari]

Seorang istri atau suami adalah teman sejati dalam hidup dalam waktu yang sangat lama bahkan mungkin seumur hidupnya. Musibah apa yang lebih besar daripada seorang insan yang seumur hidup ditemani oleh orang yang gemar mendurhakai Allah dan Rasul-Nya? Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Keadaan agama seorang insan tergantung pada keadaan agama teman dekatnya. Maka sudah sepatutnya kalian memperhatikan dengan siapa kalian berteman dekat” [HR. Ahmad, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani]

Bekali Diri Dengan Ilmu

Ilmu adalah bekal penting bagi seseorang yang ingin sukses dalam pernikahannya dan ingin membangun keluarga Islami yang samara. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu agama tentunya. Secara umum, seseorang perlu membekali diri dengan ilmu-ilmu agama, minimal ilmu-ilmu agama yang wajib bagi setiap muslim. Seperti ilmu tentang aqidah yang benar, tentang tauhid, ilmu tentang syirik, tentang wudhu, tentang shalat, tentang puasa, dan ilmu yang lain, yang jika ilmu-ilmu wajib ini belum dikuasai maka seseorang dikatakan belum benar keislamannya. Lebih baik lagi jika membekali diri dengan ilmu agama lainnya seperti ilmu hadits, tafsir al Qur’an, Fiqih, Ushul Fiqh karena tidak diragukan lagi bahwa ilmu adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Renungkanlah firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” [QS. Al Mujadalah: 11]

Secara khusus, ilmu yang penting untuk menjadi bekal adalah ilmu tentang pernikahan. Tata cara pernikahan yang syar’I, syarat-syarat pernikahan, macam-macam mahram, sunnah-sunnah dalam pernikahan, hal-hal yang perlu dihindari, dan yang lainnya.

Siapkan Harta Dan Rencana

Tidak dapat dipungkiri bahwa pernikahan membutuhkan kemampuan harta. Minimal untuk dapat memenuhi beberapa kewajiban yang menyertainya, seperti mahar, mengadakan walimah dan kewajiban memberi nafkah kepada istri serta anak-anak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” [HR. Ahmad, Abu Dawud].

Namun kebutuhan akan harta ini jangan sampai dijadikan pokok utama sampai-sampai membuat seseorang tertunda atau terhalang untuk menikah karena belum banyak harta. Harta yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (mensyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” [HR. Bukhari].

Disamping itu, terdapat larangan bermewah-mewah dalam mahar dan terdapat teladan menyederhanakan walimah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya” [HR. Ahmad]. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga, berdasarkan hadits Anas Bin Malik Radhiyallahu’anhu, ketika menikahi Zainab Bintu Jahsy mengadakan walimah hanya dengan menyembelih seekor kambing [HR. Bukhari-Muslim].

Selain itu rumah tangga bak sebuah organisasi, perlu manajemen yang baik agar dapat berjalan lancar. Maka hendaknya bagi seseorang yang hendak menikah untuk membuat perencanaan matang bagi rumah tangganya kelak. Misalnya berkaitan dengan tempat tinggal, pekerjaan, dll.

Pilihlah Dengan Baik

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius : nikah, cerai dan ruju’ ” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali Nasa’i). Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Kriteria yang paling utama adalah agama yang baik. Setiap muslim atau muslimah yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami atau istri yang baik agamanya, ia memahami aqidah Islam yang benar, ia menegakkan shalat, senantiasa mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan memilih istri yang baik agamanya “Wanita dikawini karena empat hal : ……. hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”. [HR. Bukhari- Muslim]. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga mengancam orang yang menolak lamaran dari seorang lelaki shalih “Jika datang kepada kalian lelaki yang baik agamanya (untuk melamar), maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah].

Selain itu ada beberapa kriteria lainnya yang juga dapat menjadi pertimbangan untuk memilih calon istri atau suami:
  • Sebaiknya ia berasal dari keluarga yang baik nasabnya (bukan keluarga pezina atau ahli maksiat)
  • Sebaiknya ia sekufu. Sekufu maksudnya tidak jauh berbeda kondisi agama, nasab dan kemerdekaan dan kekayaannya
  • Gadis lebih diutamakan dari pada janda
  • Subur (mampu menghasilkan keturunan)
  • Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan jika engkau pandang…” [HR. Thabrani]
  • Hendaknya calon istri memahami wajibnya taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf
  • Hendaknya calon istri adalah wanita yang mengaja auratnya dan menjaga dirinya dari lelaki non-mahram.

Shalat Istikharah Agar Lebih Mantap

Pentingnya urusan memilih calon pasangan, membuat seseorang layak untuk bersungguh-sungguh dalam hal ini. Selain melakukan usaha, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Dan salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala perkara sebagaimana beliau mengajarkan Al Qur’an” [HR. Bukhari].

Datangi Si Dia Untuk Nazhor Dan Khitbah

Setelah pilihan telah dijatuhkan, maka langkah selanjutnya adalah Nazhor. Nazhor adalah memandang keadaan fisik wanita yang hendak dilamar, agar keadaan fisik tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk melanjutkan melamar wanita tersebut atau tidak. Terdapat banyak dalil bahwa Islam telah menetapkan adanya Nazhor bagi lelaki yang hendak menikahi seorang wanita. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian meminang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah” [HR. Abu Dawud].

Namun dalam nazhor disyaratkan beberapa hal yaitu, dilarang dilakukan dengan berduaan namun ditemani oleh mahrom dari sang wanita, kemudian dilarang melihat anggota tubuh yang diharamkan, namun hanya memandang sebatas yang dibolehkan seperti wajah, telapak tangan, atau tinggi badan.
Dalil-dalil tentang adanya nazhor dalam Islam juga mengisyaratkan tentang terlarangnya pacaran dalam. Karena jika calon pengantin sudah melakukan pacaran, tentu tidak ada manfaatnya melakukan Nazhor.

Setelah bulat keputusan maka hendaknya lelaki yang hendak menikah datang kepada wali dari sang wanita untuk melakukan khitbah atau melamar. Islam tidak mendefinisikan ritual atau acara khusus untuk melamar. Namun inti dari melamar adalah meminta persetujuan wali dari sang wanita untuk menikahkan kedua calon pasangan. Karena persetujuan wali dari calon wanita adalah kewajiban dan pernikahan tidak sah tanpanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan keberadaan wali” [HR. Tirmidzi]

Siapkan Mahar

Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah mahar, atau disebut juga mas kawin. Mahar adalah pemberian seorang suami kepada istri yang disebabkan pernikahan. Memberikan mahar dalam pernikahan adalah suatu kewajiban sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban” [QS. An Nisa: 24]. Dan pada hakekatnya mahar adalah ‘hadiah’ untuk sang istri dan mahar merupakan hak istri yang tidak boleh diambil. Dan terdapat anjuran dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk tidak terlalu berlebihan dalam mahar, agar pernikahannya berkah. Sebagaimana telah dibahas di atas.

Setelah itu semua dijalani akhirnya sampailah di hari bahagia yang ditunggu-tunggu yaitu hari pernikahan. Dan tali cinta antara dua insan pun diikat.

Belum Sanggup Menikah?

Demikianlah uraian singkat mengenai kiat-kiat bagi seseorang yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nah, lalu bagaimana kiat bagi yang sudah ingin menikah namun belum dimampukan oleh Allah Ta’ala? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang belum mampu menikah hendaknya menjaga kesucian diri mereka sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya” [QS. An Nur: 33]. As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Yaitu menjaga diri dari yang haram dan menempuh segala sebab yang dapat menjauhkan diri keharaman, yaitu hal-hal yang dapat memalingkan gejolak hati terhadap hal yang haram berupa angan-angan yang dapat dikhawatirkan dapat menjerumuskan dalam keharaman” [Tafsir As Sa’di]. Intinya, Allah Ta’ala memerintahkan orang yang belum mampu untuk menikah untuk bersabar sampai ia mampu kelak. Dan karena dorongan untuk menikah sudah bergejolak mereka diperintahkan untuk menjaga diri agar gejolak tersebut tidak membawa mereka untuk melakukan hal-hal yang diharamkan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga menyarakan kepada orang yang belum mampu untuk menikah untuk banyak berpuasa, karena puasa dapat menjadi tameng dari godaan untuk bermaksiat [HR. Bukhari-Muslim]. Selama masih belum mampu untuk menikah hendaknya ia menyibukkan diri pada hal yang bermanfaat. Karena jika ia lengah sejenak saja dari hal yang bermanfaat, lubang kemaksiatan siap menjerumuskannya. Ibnul Qayyim Al Jauziyah memiliki ucapan emas: “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘An Ad Dawa Asy Syafi, hal. 109). Kemudian senantiasa berdoa agar Allah memberikan kemampuan untuk segera menikah.

Wallahul Musta’an.

Terimakasih anda baru saja membaca artikel yang berjudul "Persiapan Menuju Pernikahan Menurut Islam".
Semoga Bermanfaat
At Tauhid edisi V/20
Penulis: Yulian Purnama

Senin, 09 Mei 2016

Jalan Perubahan

Jalan Perubahan
Jalan Perubahan


JALAN PERUBAHAN . . .

Bahkan lebih dari soal tuduhan pendusta, 
penyihir, 
dukun, 
serta gila,
bahkan lebih dari soal dikejar-kejar lalu dilempari batu sambil diteriaki hina, 
ruku' lalu dijerat lehernya, 
sujud lalu diinjak kepalanya serta dituangkan bebusuk isi jeroan unta ke punggungnya,
bahkan lebih dari soal diboikot, 
dianiaya, 
diusir, 
dan dibunuhi pengikutnya,
saya masih terngungun-ngungun,
membayangkan kesabaran lelaki agung itu....

Setiap hari dia memasuki Masjidil Haram melalui Babussalaam. 
Dia akan berdiri di belakang rukun Yamani, 
menghadapkan wajah ke Al Aqsha yang jauh di utara sekaligus Baitul 'Atiq di hadapannya,
berdiri melafalkan ayat-ayat Rabbnya,
tunduk dan pasrah pada Pencipta Alam Semesta.
Di saat lain dia seru-seru kaumnya,
dia tunaikan amanat Rabbnya,
dia sampaikan RisalahNya...

Mari membayangkan betapa sesak dada Rasulullah ﷺ dan para sahabat ketika harus shalat,
membaca Al Quran,
dan mempelajari Islam di dekat Ka’bah,
di bawah bebayang bentuk-bentuk raksasa berhala-berhala yang menistainya...

Tiga belas tahun...

Latta, 'Uzza, Manat, Hubal dan nama-nama lainnya,
tak kurang dari 360 patung dalam selingkar 360 derajat kelilingnya,
dari yang dipahat dengan halus dan berseni hingga yang kasar tak beraturan,
sesembahan berbagai kabilah itu ‘setia’ menunggui mereka yang berjuang untuk mentauhidkan Allah....

Tapi Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya tidak menghancurkannya saat itu,
sebab mereka memahami bahwa yang mereka tempuh adalah jalan dakwah.
Yang hendak mereka ubah adalah hati dan pemahaman,
bukan prasarana dan bangunan....

Tanpa perubahan hati, 
berhala yang dihancurkan hari ini hanya akan dibangun jauh lebih megah di esok hari.
Tanpa perubahan pemahaman,
wadah-wadah kedurhakaan yang dibumihanguskan hari ini akan mendapatkan simpati dan pemodal yang jauh lebih besar tak lama lagi.

Maka bahkan Rasulullah ﷺ terus bersabar hingga Fathu Makkah,
tepat 21 tahun setelah dakwah dimulai.
Di hari itulah kebenaran datang dan kebatilan lenyap.
Di hari itulah patung-patung kemusyrikan penista Ka’bah rubuh dan remuk.

Tangan yang menghancurkan berhala-berhala itu bukan hanya tangan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya,
melainkan juga tangan-tangan yang petang sehari sebelumnya masih mengelus patung-patung itu dengan ta’zhim,
menaburkan dinar dan dirham di kakinya,
serta menuangkan wewangian kepadanya.

Ini semua karena hati, akal, dan jiwa yang berubah......

Jalan dakwah adalah jalan yang panjang tempuhannya.
Panjang sebab bukan kayu atau batu,
ladang atau hutan,
dan gubug atau istana yang hendak dibongkar atau dibangunnya.
Panjang karena sasaran utamanya adalah perubahan hati,
perbaikan jiwa,
pemulihan manusia,
dan penyempurnaan akhlaq yang mulia.

Di negeri ini,
betapa kita menginginkan perubahan dengan segera,
tapi kita lupa apa yang harus diubah.....

Ada pula di antara kita yang sangat tahu apa yang harus diubah dan tegas bersemboyan,
"Rasulullah memulai dakwah dengan tauhid, dengan 'aqidah."
Tapi yang kita lakukan lalu hanya mengadakan kajian tentang 'aqidah.
Sedangkan di hari pertamanya masuk Islam,
Abu Bakr menyerahkan 40.000 dirham pada Sang Nabi.

Tentu bukan hanya untuk menyelenggarakan kajian.
Sebab dakwah ini adalah jalan mendaki lagi sulit.
Tahukah kita apa jalan yang menanjak lagi sukar itu?
Membebaskan yang teperbudak,
membagi makan pada hari susah dan sesak,
pada yatim yang berkerabat,
hingga orang miskin yang amat melarat....

"..Kemudian adalah mereka itu termasuk orang-orang yang saling berwasiat tentang kesabaran, dan saling berwasiat tentang kasih sayang.." (QS Al Balad [90]: 17)

Selasa, 03 Mei 2016

Kisah Melepas Sepatu

Kisah Melepas Sepatu
Kisah Melepas Sepatu


Terkadang dalam perjalanan, kaki perlu direhatkan dengan melepas sepatunya. Salah satu adegan melepas sepatu yang paling melekat di benak saya adalah ketika Zhuge Liang diantar Lu Su memasuki balairung Sun Quan di Wu Timur.

Tentu ini bagian dari film 'Red Cliff' garapan John Woo (2008) yang diadaptasi dari cuplikan Kisah Tiga Negara itu. Dialog yang terjadi setelah Zhuge Liang melepas sepatu adalah salah satu negosiasi paling cerdik dalam sejarah.

Pada tahun 210 itu, Dinasti Han sedang di ambang keruntuhan. Para pejabat dan kasim berebut pengaruh. Kaisar Xian Di tak berdaya di hadapan Perdana Menterinya, Cao Cao, yang menggunakan nama sang Kaisar untuk menghimpun kuasa, kekuatan, dan kekayaan bagi dirinya. Tinggal Liu Bei, Paman jauh Kaisar dan Sun Quan, penguasa Wu Timur yang belum takluk. Tapi Liu Bei baru saja mengalami kekalahan berat di Xin Ye, maka para pembesar Wu Timur terbelah, antara para panglima yang hendak melawan atau para penasehat yang mau bergabung dengan Cao Cao.

Zhuge Liang, sang naga tidur yang bijak, penasehat kepercayaan Liu Bei itu datang ke Wu Timur untuk membangun persekutuan. Dia melepas sepatunya yang berlumpur setelah perjalanan panjang berhari-hari tanpa rehat dan mengibaskan jubahnya yang penuh debu dengan anggun sebelum memberi salam pada Sun Quan. Para penasehat yang memilih berdamai dengan Cao Cao menatapnya curiga sembari berkasak-kusuk,
sementara para panglima saling berbisik bahwa kedatangan Zhuge Liang adalah pertanda baik.

"Tuan Zhuge", sambut Sun Quan, "Kudengar pasukan Tuanku Liu Bei dilumat hancur ke dalam lumpur oleh pasukan Cao Cao di Xin Ye.."

"Kekalahan di Xin Ye", sahut Zhuge Liang sambil menjura tenang, "Terutama disebabkan kemuliaan hati Yang Mulia Liu Bei. Beliau memerintahkan pasukannya melindungi semua rakyat yang mengikuti beliau, sehingga gerak kami semua menjadi lamban."

"Memangnya seberapa besar kekuatan Cao Cao?"

"Delapan ratus ribu pasukan", seru Zhuge Liang. Para penasehat terperangah dan berseru panik. "Menyerang serentak dari darat, sungai, dan lautan."

"Kita tak mungkin menang melawan Cao Cao!", ujar seorang pejabat. "Lebih baik segera menyerah, bergabung dengannya", sahut yang lain. "Kalau perlu kita tangkap orang ini dan juga Liu Bei, jadikan mereka hadiah persahabatan untuk Cao Cao!"

"Pengecut tak punya malu kalian", teriak seorang panglima di sisi seberang. "Kalaupun harus kalah dari Cao Cao, kita akan beri dia pukulan yang pahit dari kegagahan prajurit Wu!"

Sun Quan menenangkan mereka yang berdiri saling tuding dalam tengkar. "Kalau memang tak mungkin melawan Cao Cao", tanya Sun Quan, "Mengapa Liu Bei tidak menyerah saja?"

"Menyerah atau melawan", sahut Zhuge Liang, "Bukan hanya soal kalah menang. Ia adalah tentang kejujuran jiwa dan kebijakan nurani." Dengan fasih sang naga tidur mengutip Guru Kong Tze dan Meng Tze, membuat semua tertunduk malu.

"Jika Tuanku Liu Bei memang harus kalah, barangkali itu takdirnya", kata Zhuge Liang sambil terus mengatupkan jemari tanda hormat dan menekankan kata-katanya, "Tapi bagaimana mungkin beliau akan menyerah dan mendukung seorang tiran? Itu akan menjadi aib yang tak terampunkan." Mata Zhuge Liang melirik ke arah para penasehat yang tersentak kena hunjaman kata-katanya.

"Tapi..", tambahnya sambil berbalik dan mengibaskan kipas bulu elangnya, "Jika memang Tuanku Sun Quan berfikir untuk menyerah, mohon lakukanlah segera. Ini akan mengurangi rengekan orang-orang di ruangan ini dan siapa tahu.. Hhh.. Siapa tahu Cao Cao tetap akan mempertahankan kedudukan Tuanku sebagai penguasa Wu."

"Jadi kaukira aku ini pengecut rendahan kalau dibanding Liu Bei?", labrak Sun Quan di belakang Zhuge Liang. Sang naga tidur segera berbalik dan menjura dengan ekspresi maaf dan menyesal.

"Bukan demikian maksud hamba", runduk Zhuge Liang. "Selama tiga generasi Keluarga Sun memerintah wilayah Wu yang luas dengan adil dan bijak, menjadikannya sebagai daerah yang makmur dan sentausa. Ini saja sudah merupakan keunggulan Paduka dibanding Tuanku Liu Bei. Maka sungguh jika kami dan Tuanku menggabungkan kekuatan, Pasukan Cao Cao yang menindas rakyat itu pasti dapat kita kalahkan."

"Lebih dari separuh pasukan Cao Cao adalah tentara dari daerah taklukannya. Kesetiaan mereka tak dapat diandalkan. Meski jumlahnya besar, mereka dipaksa untuk berjalan puluhan Li dalam sehari. Mereka pasukan yang kelelahan. Terlebih, daerah Wu yang didominasi Sungai Yang Tze tak dikenal dan akan mendatangkan banyak kesulitan bagi mereka yang datang dari dataran Utara.."

"Yang Mulia", pungkas Zhuge Liang, "Pasukan Cao Cao ini ditakdirkan untuk hancur di Wu."

Sun Quan segera terpikat oleh argumentasi Zhuge Liang, hingga para penasehat histeris putus asa mencoba mencegah perang. Tapi keputusan itu baru akan meyakinkan kalau didukung oleh ipar sang adipati, panglima tertingi Wu yang bernama Zhou Yu. Dan kisah Zhuge Liang melobi Zhou Yu yang tak kalah menarik akan kita ceritakan di lain waktu.

Ada satu lagi cerita melepas sepatu yang amat dahsyat, dan ia terjadi di masa Tabi'in.

Saat itu, Khalifah Bani 'Umayyah, Hisyam ibn 'Abdil Malik sedang menunaikan haji. Begitu memasuki Tanah Haram, dia berkata kepada para pemuka Mekah, “Carikan aku seorang sahabat Rasulillah ﷺ.”

“Wahai Amirul Mukminin", jawab mereka, "Para sahabat telah wafat satu demi satu hingga tiada yang tersisa di antara mereka.”

“Jika demikian", sahut Hisyam, "Carikan di antara ulama tabi’in!”

Maka dipanggillah Thawus bin Kaisan Al Yamani.

Thawus bin Kaisan datang, beliau membuka sepatunya di tepi permadani, lalu bertabik, "Assalaamu'alaika Ya Hisyam!"

Ya, beliau beruluk salam tanpa menyebut gelar “Amirul Mukminin”, bahkan hanya menyebut namanya saja tanpa kuniyah ataupun laqab kehormatan. Kemudian beliau langsung duduk sebelum Khalifah memberi izin dan mempersilakannya.

Hisyam tersinggung dengan perlakuan ini, hingga tampak nyala kemarahan dari sorot matanya. Baginya ini penghinaan nyata di hadapan para pembesar dan pengawalnya. Sadar bahwa saat itu dia berada di Rumah Allah, dia tahan emosinya lalu berkata, “Mengapa kau berbuat seperti ini wahai Thawus?”

“Memang apa yang kulakukan?”

“Kau melepas sepatu di tepi permadaniku, kau tidak memberi salam penghormatan, kau hanya memanggil namaku tanpa gelar, lalu duduk sebelum disilakan.”

"Adapun tentang melepas sepatu, bahkan akupun melepasnya lima kali sehari di hadapan Allah Yang Maha Esa, maka hendaknya kau tak perlu marah atau gusar. Adapun aku tidak memberi salam tanpa menyebutkan gelar Amirul Mukminin, itu karena tidak seluruh muslimin membai’atmu. Aku takut menjadi pembohong jika menggelarimu dengan julukan yang tak sepatutnya."

"Apakah kau juga tidak rela jika aku menyebut namamu tanpa gelar kebesaran, padahal Allah memanggil nabi-nabiNya dengan nama mereka, 'Wahai Dawud, Wahai Yahya, Wahai Musa, Wahai 'Isa'. Sebaliknya, Dia menyebut musuhNya dengan kuniyah dan laqab kehormatan mereka; Abu Lahab dan Fir'aun misalnya."

"Adapun mengapa aku duduk sebelum dipersilakan, ini karena aku mendengar Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib berkata, 'Bila engkau hendak melihat seorang ahli neraka, maka lihatlah seorang yang duduk sedangkan orang-orang di sekelilingnya berdiri.' Aku tidak ingin kau menjadi ahli neraka, maka kutemani engkau duduk.”

Khalifah Hisyam lalu menghela nafas. "Nasehatilah aku wahai Aba 'Abdirrahman", ujarnya.

"Aku mendengar Amirul Mukminin 'Ali ibn Abi Thalib berkata, 'Di neraka ada ular sebesar pilar-pilar dan kalajengking sebesar rumah yang mematuk dan menyengat tiap penguasa yang curang dan aniaya pada rakyatnya."

Semoga Allah merahmati sang burung merak kebenaran, Thawus ibn Kaisan Al Yamani. Dia telah mengamalkan keutamaan yang disebut Rasulullah ﷺ seperti direkam Imam At Tirmidzi, "Jihad yang paling afdhal adalah mengatakan kebenaran di hadapan pemimpin yang zhalim."

Bersama Muhajirin dan Anshar

Bersama Muhajirin dan Anshar
Bersama Muhajirin dan Anshar






“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama di antara para Muhajirin dan para Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan; Allah telah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Demikian itulah keberuntungan yang besar.” (QS At Taubah [9]: 100)

Mari berterimakasih pada sahabat Nabi yang mulia,
sang Qari’ agung,
narasumber yang dirujuk para sahabat dalam soal Al Quran..


Ubay ibn Ka’b, Radhiyallahu ‘Anhu...



Terkisah dalam Tafsir Ath Thabari dari Muhammad ibn Ka’b Al Qurazhi,
bahwasanya ‘Umar ibn Al Khaththab pernah melewati seseorang yang sedang membaca ayat ke-100 dari Surat At Taubah ini..
Maka ‘Umar mencekal tangan orang itu dan menatapnya dengan tajam sembari berkata,

“Siapakah yang mengajarkan ayat ini dibaca seperti itu kepadamu?”

Orang itu menjawab dengan agak takut, “Ubay ibn Ka’b”.

“Jangan sekali-kali kamu pergi sebelum kita menjumpai Ubay untuk mendapatkan keterangannya!”, ujar ‘Umar sembari menarik lelaki itu untuk menemui Ubay ibn Ka’b.


Ketika mereka telah sampai kepada Ubay,
maka ‘Umarpun menanyakan tentang ayat tersebut,
yang memang berbeda cara membacanya dari yang beliau fahami selama ini..

“Benar wahai Amiral Mukminin, aku yang membacakan ayat itu kepadanya dengan qiraat seperti itu sebagaimana dahulu Rasulullah telah membacakannya kepadaku!”, tegas Ubay.

“Apakah engkau bisa menghadirkan dua saksi yang adil untuk mendukung dakuanmu itu?”

“Inilah ‘Utsman ibn ‘Affan, ‘Ali ibn Abi Thalib, ‘Abdullah ibn Mas’ud, Mu’adz ibn Jabal, dan Zaid ibn Tsabit menjadi saksiku. Tak cukupkah bagimu para penulis Rasulullah dan para penghimpun Al Quran?”

“Baik”, ujar ‘Umar sembari menghela nafas dengan sesal sekaligus lega. “Hanyasaja aku dulu mengira bahwa kami para sahabat yang berhijrah telah dikaruniai derajat tinggi yang takkan dapat digapai siapapun sesudahnya."

"Maka aku membacanya dari catatanku, ‘Wassabiqunal awwaluna minal muhajirin. Wal ansharulladziinat taba’uhum bi ihsan..

Dan para terdahulu lagi mula-mula dari kalangan muhajirin. Dan orang-orang Anshar yang mengikuti para muhajirin itu dengan kebaikan.’ Tetapi dari kalian aku baru tahu, ayat itu seharusnya dibaca, ‘Wassabiqunal awwaluna minal muhajirina wal anshar, walladzinat taba’uhum bi ihsan.. Dan para terdahulu lagi mula-mula dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan..”

“Berkenankah engkau wahai Amiral Mukminin”, sela Ubay sembari tersenyum, “Kuberikan dua hujjah lagi dari Al Quran untuk menegakkan pemahaman itu, bahwa ada kaum di belakang masa yang akan Allah muliakan sebagaimana kita?”

“Tentu”, angguk ‘Umar dengan mantap.

“Dalil peneguh pertama ada dalam Surat Al Jumu’ah, ayat yang ketiga, ‘Dan juga kepada kaum yang lain daripada mereka, yang belum berhubung-jumpa dengan mereka..’

Dalil peneguh kedua ada dalam Surat Al Hasyr, ayat yang kesepuluh, ‘Dan orang-orang yang datang sesudah para Muhajirin dan Anshar, yang mereka berdoa...”

Segala puji bagi Allah, dan semoga Dia membalas kebaikan Ubay ibn Ka’b,
salah satu dari empat Mahaguru Al Quran yang ditunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dengan penjelasan beliau ketika meluruskan kesalahfahaman Sayyidina ‘Umar terfahami dua hal penting.

Pertama, bahwa para As Sabiqunal Awwalun ada dari kalangan Muhajirin maupun juga dari Anshar.

Yang kedua, -dan inilah yang amat permata bagi kita-, bahwa dimungkinkan bagi insan-insan yang hidup jauh sesudah kurun para sahabat untuk meraih karunia yang serupa dengan apa yang telah dianugrahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para As Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Allah telah ridha kepada mereka,
dan merekapun ridha kepada Allah.
Maka kita juga ridha kepada mereka semua.
Kita ridha agar kelak dihimpun bersama mereka.
Kita ridha bahwa merekalah gemintang di langit cerah yang akan memandu perjalanan kita di kehidupan dunia yang bagai malam gulita...


Senin, 02 Mei 2016

Bertemu Jodoh Lewat Bersin


Bertemu Jodoh Lewat Bersin
Bertemu Jodoh Lewat Bersin


True Story....

Kisah KH AL-Ny. Hj. SNA..
Di Magelang..

Dalam sebuah perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, tahun 1980-an..
pemuda itu bersin di kursinya..
Diapun bertahmid, “Alhamdulillaah.”
Dari seberang tempat duduknya terdengar suara lirih namun tegas, “Yarhamukallaah.”
Maka diapun menjawab, “Yahdikumullah, wa yushlihu baalakum”, lalu menoleh..
Yang dia lihat adalah jilbab putih, yang wajahnya menghadap ke jendela..

Ini tahun 1980-an..
Jilbab adalah permata firdaus di gersangnya dakwah..
Dan ucapan “Yarhamukallaah” adalah ilmu yang langka..
Keduanya terasa surgawi..


Maka bergegas, disobeknya kertas dari buku agenda & diambilnya pena dari tasnya..
Disodorkannya pada muslimah itu..
“Dik”, ujarnya, “Tolong tulis nama Bapak Anda & alamat lengkapnya.”.

Gadis itu terkejut. “Buat apa?”, tanyanya dengan wajah pias lagi khawatir..

“Saya ingin menyambung ukhuwah & thalabul ‘ilmi kepada beliau”, ujar sang pemuda. “Amat bersyukur jika bisa belajar dari beliau bagaimana mendidik putra-putri jadi Shalih & Shalihah.”

Masih ragu, gadis itupun menuliskan sebuah nama & alamat..

“Kalau ada denahnya lebih baik”, sergah si pemuda..


Beberapa hari kemudian, pemuda itu mendatangi alamat yang tertulis di kertas..

Diketuk pintunya, dia ucapkan salam..
Seorang bapak berwajah teduh & bersahaja menyambutnya..

Setelah disilakan duduk, sang bapak bertanya, “Anak ini siapa & ada perlu apa?”
Dia perkenalkan dirinya, lalu dia berkata, “Maksud saya kemari,

pertama nawaituz ziyarah libina-il ukhuwah. Saya ingin, semoga dapat bersaudara dengan orang-orang Shalih sampai ke surga.”

“Yang kedua”, sambungnya, “Niat saya adalah thalabul ‘ilmi. Semoga saya dapat belajar pada Bapak bagaimana mendidik anak jadi Shalih dan Shalihah.”

“Yang ketiga”, di kalimat ini dia agak gemetar, “Jika memungkinkan bagi saya belajar langsung tentang itu di bawah bimbingan Bapak dengan menjadi bagian keluarga ini, saya sangat bersyukur. Maka dengan ini, saya beranikan diri melamar putri Bapak.”


“Lho Nak”, ujar si Bapak,
“Putri saya yang mana yang mau Anak lamar? Anak perempuan saya jumlahnya ada 5 itu?”

“BismiLlah. Saya serahkan pada Bapak, mana yang Bapak ridhakan untuk saya. Saya serahkan urusan ini kepada Allah dan kepada Bapak.

Sebab saya yakin, husnuzhzhan saya, bapak sebagai orang Shalih, juga memiliki putri-putri yang semua Shalihah.”


“Lho ya jangan begitu. Lha anak saya yang sudah Anda kenal yang mana?”
“Belum ada Pak”, pemuda itu nyengir..

Orangtua itu geleng-geleng kepala sambil tersenyum bijak. “Sebentar Nak”, kata si Bapak,

“Lha Anda bisa sampai ke sini, tiba-tiba melamar anak saya itu ceritanya bagaimana?”

Pemuda itupun menceritakan kisah perjumpaannya dengan putri sang Bapak di Kereta. Lengkap dan gamblang.

Sang bapak mengangguk-angguk. “Ya kalau begitu”, ujar beliau, “Karena yang sudah Anda nazhar (lihat) adalah anak saya yang itu, bagaimana kalau saya tanyakan padanya kesanggupannya,apakah anak juga ridha padanya?”


Pemuda itu mengangguk dengan tersipu malu..

Singkat cerita, hari itu juga mereka diakadkan,
dengan memanggil tetangga kanan-kiri tuk jadi saksi.


Maharnya?
Pena yang dipakai pemuda itu meminta alamat sang Bapak pada gadis di kereta yang akhirnya jadi isterinya, ditambah beberapa lembar rupiah yang ada di dompetnya.


Hingga kini mereka dikaruniai 6 putra-putri.
Satu putra telah wafat karena sakit setelah mengkhatamkan hafalan Qurannya.
Lima yang lain, semua juga menjadi para pemikul Al Quran.


Pasangan yang tak lagi muda itu,
masih suka saling menggoda hingga kini.
Itu tak lain, karena sang suami memang berpembawaan lucu.

“Salim”,(bkn nama sebenarnya) ujarnya pada suatu hari, “Bibimu ini lho, cuma saya bersin-i saja jadi istri. Lha coba kalau saya batuk, jadi apa dia!” Saya terkekeh.

Dan lebih terbahak ketika bibi saya itu mencubit perut samping suaminya. “Kalau batuk”, ujar Hafizhah Qiraat Sab’ah ini, ingin bercanda tapi tak dapat menahan tawanya sendiri,

 “Mungkin beliau jadi sopir saya!”


Ya Allah.... jagalah mereka, sebab mereka menjaga KitabMu di sebuah pesantren sederhana di pelosok negeri ini...


—— :: Misteri jodoh itu unik kawan. Lagi gak nyari,
eh malah ketemu.
Pas nyari sampai bertahun-tahun,
eh gak cocok aja..
Jodoh itu sudah ditakdirkan, jadi gak perlu risau, galau, parau.melau...