Senin, 05 September 2016

Persiapan Menuju Pernikahan Menurut Islam

Persiapan Menuju Pernikahan Menurut Islam

Kiat-Kiat Menuju Pelaminan

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula” [QS. An Nur: 26].

Sungguh indah ikatan suci antara dua orang insan yang pasrah untuk saling berjanji setia menemani mengayuh biduk mengarungi lautan kehidupan. Dari ikatan suci ini dibangun keluarga bahagia, yang dipimpin oleh seorang suami yang shalih dan dimotori oleh seorang istri yang shalihah. Mereka mengerti hak-hak dan kewajiban mereka terhadap pasangannya, dan mereka pun memahami hak dan kewajiban mereka kepada Allah Ta’ala. Kemudian lahir dari mereka berdua anak-anak yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Cinta dan kasih sayang pun tumbuh subur di dalamnya. Rahmat dan berkah Allah pun terlimpah kepada mereka. Inilah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, samara kata orang. Inilah model keluarga yang diidamkan oleh setiap muslim tentunya.

Tidak diragukan lagi, bahwa untuk menggapai taraf keluarga yang demikian setiap orang harus melewati sebuah pintu, yaitu pernikahan. Dan usaha untuk meraih keluarga yang samara ini hendaknya sudah dimulai saat merencanakan pernikahan. Pada tulisan singkat ini akan sedikit dibahas beberapa kiat menuju pernikahan Islam yang diharapkan menjadi awal dari sebuah keluarga yang samara.

Berbenah Diri Untuk Mendapatkan Yang Terbaik

Penulis ingin membicarakan 2 jenis manusia ketika ditanya: “Anda ingin menikah dengan orang shalih/shalihah atau tidak?”. Manusia jenis pertama menjawab “Ya, tentu saja saya ingin”, dan inilah muslim yang masih bersih fitrahnya. Ia tentu mendambakan seorang suami atau istri yang taat kepada Allah, ia mendirikan shalat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ia menginginkan sosok yang shalih atau shalihah. Maka, jika orang termasuk manusia pertama ini agar ia mendapatkan pasangan yang shalih atau shalihah, maka ia harus berusaha menjadi orang yang shalih atau shalihah pula. Allah Azza Wa Jalla berfirman yang artinya: “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula” [QS. An Nur: 26]. Yaitu dengan berbenah diri, berusaha untuk bertaubat dan meninggalkan segala kemaksiatan yang dilakukannya kemudian menambah ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan manusia jenis kedua menjawab: “Ah saya sih ndak mau yang alim-alim” atau semacam itu. Inilah seorang muslim yang telah keluar dari fitrahnya yang bersih, karena sudah terlalu dalam berkubang dalam kemaksiatan sehingga ia melupakan Allah Ta’ala, melupakan kepastian akan datangnya hari akhir, melupakan kerasnya siksa neraka. Yang ada di benaknya hanya kebahagiaan dunia semata dan enggan menggapai kebahagiaan akhirat. Kita khawatir orang-orang semacam inilah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai orang yang enggan masuk surga. Lho, masuk surga koq tidak mau? Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?’. Beliau bersabda: “Yang taat kepadaku akan masuk surga dan yang ingkar terhadapku maka ia enggan masuk surga” [HR. Bukhari]

Seorang istri atau suami adalah teman sejati dalam hidup dalam waktu yang sangat lama bahkan mungkin seumur hidupnya. Musibah apa yang lebih besar daripada seorang insan yang seumur hidup ditemani oleh orang yang gemar mendurhakai Allah dan Rasul-Nya? Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Keadaan agama seorang insan tergantung pada keadaan agama teman dekatnya. Maka sudah sepatutnya kalian memperhatikan dengan siapa kalian berteman dekat” [HR. Ahmad, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani]

Bekali Diri Dengan Ilmu

Ilmu adalah bekal penting bagi seseorang yang ingin sukses dalam pernikahannya dan ingin membangun keluarga Islami yang samara. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu agama tentunya. Secara umum, seseorang perlu membekali diri dengan ilmu-ilmu agama, minimal ilmu-ilmu agama yang wajib bagi setiap muslim. Seperti ilmu tentang aqidah yang benar, tentang tauhid, ilmu tentang syirik, tentang wudhu, tentang shalat, tentang puasa, dan ilmu yang lain, yang jika ilmu-ilmu wajib ini belum dikuasai maka seseorang dikatakan belum benar keislamannya. Lebih baik lagi jika membekali diri dengan ilmu agama lainnya seperti ilmu hadits, tafsir al Qur’an, Fiqih, Ushul Fiqh karena tidak diragukan lagi bahwa ilmu adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Renungkanlah firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” [QS. Al Mujadalah: 11]

Secara khusus, ilmu yang penting untuk menjadi bekal adalah ilmu tentang pernikahan. Tata cara pernikahan yang syar’I, syarat-syarat pernikahan, macam-macam mahram, sunnah-sunnah dalam pernikahan, hal-hal yang perlu dihindari, dan yang lainnya.

Siapkan Harta Dan Rencana

Tidak dapat dipungkiri bahwa pernikahan membutuhkan kemampuan harta. Minimal untuk dapat memenuhi beberapa kewajiban yang menyertainya, seperti mahar, mengadakan walimah dan kewajiban memberi nafkah kepada istri serta anak-anak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” [HR. Ahmad, Abu Dawud].

Namun kebutuhan akan harta ini jangan sampai dijadikan pokok utama sampai-sampai membuat seseorang tertunda atau terhalang untuk menikah karena belum banyak harta. Harta yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (mensyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” [HR. Bukhari].

Disamping itu, terdapat larangan bermewah-mewah dalam mahar dan terdapat teladan menyederhanakan walimah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya” [HR. Ahmad]. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga, berdasarkan hadits Anas Bin Malik Radhiyallahu’anhu, ketika menikahi Zainab Bintu Jahsy mengadakan walimah hanya dengan menyembelih seekor kambing [HR. Bukhari-Muslim].

Selain itu rumah tangga bak sebuah organisasi, perlu manajemen yang baik agar dapat berjalan lancar. Maka hendaknya bagi seseorang yang hendak menikah untuk membuat perencanaan matang bagi rumah tangganya kelak. Misalnya berkaitan dengan tempat tinggal, pekerjaan, dll.

Pilihlah Dengan Baik

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius : nikah, cerai dan ruju’ ” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali Nasa’i). Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Kriteria yang paling utama adalah agama yang baik. Setiap muslim atau muslimah yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami atau istri yang baik agamanya, ia memahami aqidah Islam yang benar, ia menegakkan shalat, senantiasa mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan memilih istri yang baik agamanya “Wanita dikawini karena empat hal : ……. hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”. [HR. Bukhari- Muslim]. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga mengancam orang yang menolak lamaran dari seorang lelaki shalih “Jika datang kepada kalian lelaki yang baik agamanya (untuk melamar), maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah].

Selain itu ada beberapa kriteria lainnya yang juga dapat menjadi pertimbangan untuk memilih calon istri atau suami:
  • Sebaiknya ia berasal dari keluarga yang baik nasabnya (bukan keluarga pezina atau ahli maksiat)
  • Sebaiknya ia sekufu. Sekufu maksudnya tidak jauh berbeda kondisi agama, nasab dan kemerdekaan dan kekayaannya
  • Gadis lebih diutamakan dari pada janda
  • Subur (mampu menghasilkan keturunan)
  • Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan jika engkau pandang…” [HR. Thabrani]
  • Hendaknya calon istri memahami wajibnya taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf
  • Hendaknya calon istri adalah wanita yang mengaja auratnya dan menjaga dirinya dari lelaki non-mahram.

Shalat Istikharah Agar Lebih Mantap

Pentingnya urusan memilih calon pasangan, membuat seseorang layak untuk bersungguh-sungguh dalam hal ini. Selain melakukan usaha, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Dan salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala perkara sebagaimana beliau mengajarkan Al Qur’an” [HR. Bukhari].

Datangi Si Dia Untuk Nazhor Dan Khitbah

Setelah pilihan telah dijatuhkan, maka langkah selanjutnya adalah Nazhor. Nazhor adalah memandang keadaan fisik wanita yang hendak dilamar, agar keadaan fisik tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk melanjutkan melamar wanita tersebut atau tidak. Terdapat banyak dalil bahwa Islam telah menetapkan adanya Nazhor bagi lelaki yang hendak menikahi seorang wanita. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian meminang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah” [HR. Abu Dawud].

Namun dalam nazhor disyaratkan beberapa hal yaitu, dilarang dilakukan dengan berduaan namun ditemani oleh mahrom dari sang wanita, kemudian dilarang melihat anggota tubuh yang diharamkan, namun hanya memandang sebatas yang dibolehkan seperti wajah, telapak tangan, atau tinggi badan.
Dalil-dalil tentang adanya nazhor dalam Islam juga mengisyaratkan tentang terlarangnya pacaran dalam. Karena jika calon pengantin sudah melakukan pacaran, tentu tidak ada manfaatnya melakukan Nazhor.

Setelah bulat keputusan maka hendaknya lelaki yang hendak menikah datang kepada wali dari sang wanita untuk melakukan khitbah atau melamar. Islam tidak mendefinisikan ritual atau acara khusus untuk melamar. Namun inti dari melamar adalah meminta persetujuan wali dari sang wanita untuk menikahkan kedua calon pasangan. Karena persetujuan wali dari calon wanita adalah kewajiban dan pernikahan tidak sah tanpanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan keberadaan wali” [HR. Tirmidzi]

Siapkan Mahar

Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah mahar, atau disebut juga mas kawin. Mahar adalah pemberian seorang suami kepada istri yang disebabkan pernikahan. Memberikan mahar dalam pernikahan adalah suatu kewajiban sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban” [QS. An Nisa: 24]. Dan pada hakekatnya mahar adalah ‘hadiah’ untuk sang istri dan mahar merupakan hak istri yang tidak boleh diambil. Dan terdapat anjuran dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk tidak terlalu berlebihan dalam mahar, agar pernikahannya berkah. Sebagaimana telah dibahas di atas.

Setelah itu semua dijalani akhirnya sampailah di hari bahagia yang ditunggu-tunggu yaitu hari pernikahan. Dan tali cinta antara dua insan pun diikat.

Belum Sanggup Menikah?

Demikianlah uraian singkat mengenai kiat-kiat bagi seseorang yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nah, lalu bagaimana kiat bagi yang sudah ingin menikah namun belum dimampukan oleh Allah Ta’ala? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang belum mampu menikah hendaknya menjaga kesucian diri mereka sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya” [QS. An Nur: 33]. As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Yaitu menjaga diri dari yang haram dan menempuh segala sebab yang dapat menjauhkan diri keharaman, yaitu hal-hal yang dapat memalingkan gejolak hati terhadap hal yang haram berupa angan-angan yang dapat dikhawatirkan dapat menjerumuskan dalam keharaman” [Tafsir As Sa’di]. Intinya, Allah Ta’ala memerintahkan orang yang belum mampu untuk menikah untuk bersabar sampai ia mampu kelak. Dan karena dorongan untuk menikah sudah bergejolak mereka diperintahkan untuk menjaga diri agar gejolak tersebut tidak membawa mereka untuk melakukan hal-hal yang diharamkan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga menyarakan kepada orang yang belum mampu untuk menikah untuk banyak berpuasa, karena puasa dapat menjadi tameng dari godaan untuk bermaksiat [HR. Bukhari-Muslim]. Selama masih belum mampu untuk menikah hendaknya ia menyibukkan diri pada hal yang bermanfaat. Karena jika ia lengah sejenak saja dari hal yang bermanfaat, lubang kemaksiatan siap menjerumuskannya. Ibnul Qayyim Al Jauziyah memiliki ucapan emas: “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘An Ad Dawa Asy Syafi, hal. 109). Kemudian senantiasa berdoa agar Allah memberikan kemampuan untuk segera menikah.

Wallahul Musta’an.

Terimakasih anda baru saja membaca artikel yang berjudul "Persiapan Menuju Pernikahan Menurut Islam".
Semoga Bermanfaat
At Tauhid edisi V/20
Penulis: Yulian Purnama

Senin, 09 Mei 2016

Jalan Perubahan

Jalan Perubahan
Jalan Perubahan


JALAN PERUBAHAN . . .

Bahkan lebih dari soal tuduhan pendusta, 
penyihir, 
dukun, 
serta gila,
bahkan lebih dari soal dikejar-kejar lalu dilempari batu sambil diteriaki hina, 
ruku' lalu dijerat lehernya, 
sujud lalu diinjak kepalanya serta dituangkan bebusuk isi jeroan unta ke punggungnya,
bahkan lebih dari soal diboikot, 
dianiaya, 
diusir, 
dan dibunuhi pengikutnya,
saya masih terngungun-ngungun,
membayangkan kesabaran lelaki agung itu....

Setiap hari dia memasuki Masjidil Haram melalui Babussalaam. 
Dia akan berdiri di belakang rukun Yamani, 
menghadapkan wajah ke Al Aqsha yang jauh di utara sekaligus Baitul 'Atiq di hadapannya,
berdiri melafalkan ayat-ayat Rabbnya,
tunduk dan pasrah pada Pencipta Alam Semesta.
Di saat lain dia seru-seru kaumnya,
dia tunaikan amanat Rabbnya,
dia sampaikan RisalahNya...

Mari membayangkan betapa sesak dada Rasulullah ﷺ dan para sahabat ketika harus shalat,
membaca Al Quran,
dan mempelajari Islam di dekat Ka’bah,
di bawah bebayang bentuk-bentuk raksasa berhala-berhala yang menistainya...

Tiga belas tahun...

Latta, 'Uzza, Manat, Hubal dan nama-nama lainnya,
tak kurang dari 360 patung dalam selingkar 360 derajat kelilingnya,
dari yang dipahat dengan halus dan berseni hingga yang kasar tak beraturan,
sesembahan berbagai kabilah itu ‘setia’ menunggui mereka yang berjuang untuk mentauhidkan Allah....

Tapi Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya tidak menghancurkannya saat itu,
sebab mereka memahami bahwa yang mereka tempuh adalah jalan dakwah.
Yang hendak mereka ubah adalah hati dan pemahaman,
bukan prasarana dan bangunan....

Tanpa perubahan hati, 
berhala yang dihancurkan hari ini hanya akan dibangun jauh lebih megah di esok hari.
Tanpa perubahan pemahaman,
wadah-wadah kedurhakaan yang dibumihanguskan hari ini akan mendapatkan simpati dan pemodal yang jauh lebih besar tak lama lagi.

Maka bahkan Rasulullah ﷺ terus bersabar hingga Fathu Makkah,
tepat 21 tahun setelah dakwah dimulai.
Di hari itulah kebenaran datang dan kebatilan lenyap.
Di hari itulah patung-patung kemusyrikan penista Ka’bah rubuh dan remuk.

Tangan yang menghancurkan berhala-berhala itu bukan hanya tangan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya,
melainkan juga tangan-tangan yang petang sehari sebelumnya masih mengelus patung-patung itu dengan ta’zhim,
menaburkan dinar dan dirham di kakinya,
serta menuangkan wewangian kepadanya.

Ini semua karena hati, akal, dan jiwa yang berubah......

Jalan dakwah adalah jalan yang panjang tempuhannya.
Panjang sebab bukan kayu atau batu,
ladang atau hutan,
dan gubug atau istana yang hendak dibongkar atau dibangunnya.
Panjang karena sasaran utamanya adalah perubahan hati,
perbaikan jiwa,
pemulihan manusia,
dan penyempurnaan akhlaq yang mulia.

Di negeri ini,
betapa kita menginginkan perubahan dengan segera,
tapi kita lupa apa yang harus diubah.....

Ada pula di antara kita yang sangat tahu apa yang harus diubah dan tegas bersemboyan,
"Rasulullah memulai dakwah dengan tauhid, dengan 'aqidah."
Tapi yang kita lakukan lalu hanya mengadakan kajian tentang 'aqidah.
Sedangkan di hari pertamanya masuk Islam,
Abu Bakr menyerahkan 40.000 dirham pada Sang Nabi.

Tentu bukan hanya untuk menyelenggarakan kajian.
Sebab dakwah ini adalah jalan mendaki lagi sulit.
Tahukah kita apa jalan yang menanjak lagi sukar itu?
Membebaskan yang teperbudak,
membagi makan pada hari susah dan sesak,
pada yatim yang berkerabat,
hingga orang miskin yang amat melarat....

"..Kemudian adalah mereka itu termasuk orang-orang yang saling berwasiat tentang kesabaran, dan saling berwasiat tentang kasih sayang.." (QS Al Balad [90]: 17)

Selasa, 03 Mei 2016

Kisah Melepas Sepatu

Kisah Melepas Sepatu
Kisah Melepas Sepatu


Terkadang dalam perjalanan, kaki perlu direhatkan dengan melepas sepatunya. Salah satu adegan melepas sepatu yang paling melekat di benak saya adalah ketika Zhuge Liang diantar Lu Su memasuki balairung Sun Quan di Wu Timur.

Tentu ini bagian dari film 'Red Cliff' garapan John Woo (2008) yang diadaptasi dari cuplikan Kisah Tiga Negara itu. Dialog yang terjadi setelah Zhuge Liang melepas sepatu adalah salah satu negosiasi paling cerdik dalam sejarah.

Pada tahun 210 itu, Dinasti Han sedang di ambang keruntuhan. Para pejabat dan kasim berebut pengaruh. Kaisar Xian Di tak berdaya di hadapan Perdana Menterinya, Cao Cao, yang menggunakan nama sang Kaisar untuk menghimpun kuasa, kekuatan, dan kekayaan bagi dirinya. Tinggal Liu Bei, Paman jauh Kaisar dan Sun Quan, penguasa Wu Timur yang belum takluk. Tapi Liu Bei baru saja mengalami kekalahan berat di Xin Ye, maka para pembesar Wu Timur terbelah, antara para panglima yang hendak melawan atau para penasehat yang mau bergabung dengan Cao Cao.

Zhuge Liang, sang naga tidur yang bijak, penasehat kepercayaan Liu Bei itu datang ke Wu Timur untuk membangun persekutuan. Dia melepas sepatunya yang berlumpur setelah perjalanan panjang berhari-hari tanpa rehat dan mengibaskan jubahnya yang penuh debu dengan anggun sebelum memberi salam pada Sun Quan. Para penasehat yang memilih berdamai dengan Cao Cao menatapnya curiga sembari berkasak-kusuk,
sementara para panglima saling berbisik bahwa kedatangan Zhuge Liang adalah pertanda baik.

"Tuan Zhuge", sambut Sun Quan, "Kudengar pasukan Tuanku Liu Bei dilumat hancur ke dalam lumpur oleh pasukan Cao Cao di Xin Ye.."

"Kekalahan di Xin Ye", sahut Zhuge Liang sambil menjura tenang, "Terutama disebabkan kemuliaan hati Yang Mulia Liu Bei. Beliau memerintahkan pasukannya melindungi semua rakyat yang mengikuti beliau, sehingga gerak kami semua menjadi lamban."

"Memangnya seberapa besar kekuatan Cao Cao?"

"Delapan ratus ribu pasukan", seru Zhuge Liang. Para penasehat terperangah dan berseru panik. "Menyerang serentak dari darat, sungai, dan lautan."

"Kita tak mungkin menang melawan Cao Cao!", ujar seorang pejabat. "Lebih baik segera menyerah, bergabung dengannya", sahut yang lain. "Kalau perlu kita tangkap orang ini dan juga Liu Bei, jadikan mereka hadiah persahabatan untuk Cao Cao!"

"Pengecut tak punya malu kalian", teriak seorang panglima di sisi seberang. "Kalaupun harus kalah dari Cao Cao, kita akan beri dia pukulan yang pahit dari kegagahan prajurit Wu!"

Sun Quan menenangkan mereka yang berdiri saling tuding dalam tengkar. "Kalau memang tak mungkin melawan Cao Cao", tanya Sun Quan, "Mengapa Liu Bei tidak menyerah saja?"

"Menyerah atau melawan", sahut Zhuge Liang, "Bukan hanya soal kalah menang. Ia adalah tentang kejujuran jiwa dan kebijakan nurani." Dengan fasih sang naga tidur mengutip Guru Kong Tze dan Meng Tze, membuat semua tertunduk malu.

"Jika Tuanku Liu Bei memang harus kalah, barangkali itu takdirnya", kata Zhuge Liang sambil terus mengatupkan jemari tanda hormat dan menekankan kata-katanya, "Tapi bagaimana mungkin beliau akan menyerah dan mendukung seorang tiran? Itu akan menjadi aib yang tak terampunkan." Mata Zhuge Liang melirik ke arah para penasehat yang tersentak kena hunjaman kata-katanya.

"Tapi..", tambahnya sambil berbalik dan mengibaskan kipas bulu elangnya, "Jika memang Tuanku Sun Quan berfikir untuk menyerah, mohon lakukanlah segera. Ini akan mengurangi rengekan orang-orang di ruangan ini dan siapa tahu.. Hhh.. Siapa tahu Cao Cao tetap akan mempertahankan kedudukan Tuanku sebagai penguasa Wu."

"Jadi kaukira aku ini pengecut rendahan kalau dibanding Liu Bei?", labrak Sun Quan di belakang Zhuge Liang. Sang naga tidur segera berbalik dan menjura dengan ekspresi maaf dan menyesal.

"Bukan demikian maksud hamba", runduk Zhuge Liang. "Selama tiga generasi Keluarga Sun memerintah wilayah Wu yang luas dengan adil dan bijak, menjadikannya sebagai daerah yang makmur dan sentausa. Ini saja sudah merupakan keunggulan Paduka dibanding Tuanku Liu Bei. Maka sungguh jika kami dan Tuanku menggabungkan kekuatan, Pasukan Cao Cao yang menindas rakyat itu pasti dapat kita kalahkan."

"Lebih dari separuh pasukan Cao Cao adalah tentara dari daerah taklukannya. Kesetiaan mereka tak dapat diandalkan. Meski jumlahnya besar, mereka dipaksa untuk berjalan puluhan Li dalam sehari. Mereka pasukan yang kelelahan. Terlebih, daerah Wu yang didominasi Sungai Yang Tze tak dikenal dan akan mendatangkan banyak kesulitan bagi mereka yang datang dari dataran Utara.."

"Yang Mulia", pungkas Zhuge Liang, "Pasukan Cao Cao ini ditakdirkan untuk hancur di Wu."

Sun Quan segera terpikat oleh argumentasi Zhuge Liang, hingga para penasehat histeris putus asa mencoba mencegah perang. Tapi keputusan itu baru akan meyakinkan kalau didukung oleh ipar sang adipati, panglima tertingi Wu yang bernama Zhou Yu. Dan kisah Zhuge Liang melobi Zhou Yu yang tak kalah menarik akan kita ceritakan di lain waktu.

Ada satu lagi cerita melepas sepatu yang amat dahsyat, dan ia terjadi di masa Tabi'in.

Saat itu, Khalifah Bani 'Umayyah, Hisyam ibn 'Abdil Malik sedang menunaikan haji. Begitu memasuki Tanah Haram, dia berkata kepada para pemuka Mekah, “Carikan aku seorang sahabat Rasulillah ﷺ.”

“Wahai Amirul Mukminin", jawab mereka, "Para sahabat telah wafat satu demi satu hingga tiada yang tersisa di antara mereka.”

“Jika demikian", sahut Hisyam, "Carikan di antara ulama tabi’in!”

Maka dipanggillah Thawus bin Kaisan Al Yamani.

Thawus bin Kaisan datang, beliau membuka sepatunya di tepi permadani, lalu bertabik, "Assalaamu'alaika Ya Hisyam!"

Ya, beliau beruluk salam tanpa menyebut gelar “Amirul Mukminin”, bahkan hanya menyebut namanya saja tanpa kuniyah ataupun laqab kehormatan. Kemudian beliau langsung duduk sebelum Khalifah memberi izin dan mempersilakannya.

Hisyam tersinggung dengan perlakuan ini, hingga tampak nyala kemarahan dari sorot matanya. Baginya ini penghinaan nyata di hadapan para pembesar dan pengawalnya. Sadar bahwa saat itu dia berada di Rumah Allah, dia tahan emosinya lalu berkata, “Mengapa kau berbuat seperti ini wahai Thawus?”

“Memang apa yang kulakukan?”

“Kau melepas sepatu di tepi permadaniku, kau tidak memberi salam penghormatan, kau hanya memanggil namaku tanpa gelar, lalu duduk sebelum disilakan.”

"Adapun tentang melepas sepatu, bahkan akupun melepasnya lima kali sehari di hadapan Allah Yang Maha Esa, maka hendaknya kau tak perlu marah atau gusar. Adapun aku tidak memberi salam tanpa menyebutkan gelar Amirul Mukminin, itu karena tidak seluruh muslimin membai’atmu. Aku takut menjadi pembohong jika menggelarimu dengan julukan yang tak sepatutnya."

"Apakah kau juga tidak rela jika aku menyebut namamu tanpa gelar kebesaran, padahal Allah memanggil nabi-nabiNya dengan nama mereka, 'Wahai Dawud, Wahai Yahya, Wahai Musa, Wahai 'Isa'. Sebaliknya, Dia menyebut musuhNya dengan kuniyah dan laqab kehormatan mereka; Abu Lahab dan Fir'aun misalnya."

"Adapun mengapa aku duduk sebelum dipersilakan, ini karena aku mendengar Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib berkata, 'Bila engkau hendak melihat seorang ahli neraka, maka lihatlah seorang yang duduk sedangkan orang-orang di sekelilingnya berdiri.' Aku tidak ingin kau menjadi ahli neraka, maka kutemani engkau duduk.”

Khalifah Hisyam lalu menghela nafas. "Nasehatilah aku wahai Aba 'Abdirrahman", ujarnya.

"Aku mendengar Amirul Mukminin 'Ali ibn Abi Thalib berkata, 'Di neraka ada ular sebesar pilar-pilar dan kalajengking sebesar rumah yang mematuk dan menyengat tiap penguasa yang curang dan aniaya pada rakyatnya."

Semoga Allah merahmati sang burung merak kebenaran, Thawus ibn Kaisan Al Yamani. Dia telah mengamalkan keutamaan yang disebut Rasulullah ﷺ seperti direkam Imam At Tirmidzi, "Jihad yang paling afdhal adalah mengatakan kebenaran di hadapan pemimpin yang zhalim."

Bersama Muhajirin dan Anshar

Bersama Muhajirin dan Anshar
Bersama Muhajirin dan Anshar






“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama di antara para Muhajirin dan para Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan; Allah telah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Demikian itulah keberuntungan yang besar.” (QS At Taubah [9]: 100)

Mari berterimakasih pada sahabat Nabi yang mulia,
sang Qari’ agung,
narasumber yang dirujuk para sahabat dalam soal Al Quran..


Ubay ibn Ka’b, Radhiyallahu ‘Anhu...



Terkisah dalam Tafsir Ath Thabari dari Muhammad ibn Ka’b Al Qurazhi,
bahwasanya ‘Umar ibn Al Khaththab pernah melewati seseorang yang sedang membaca ayat ke-100 dari Surat At Taubah ini..
Maka ‘Umar mencekal tangan orang itu dan menatapnya dengan tajam sembari berkata,

“Siapakah yang mengajarkan ayat ini dibaca seperti itu kepadamu?”

Orang itu menjawab dengan agak takut, “Ubay ibn Ka’b”.

“Jangan sekali-kali kamu pergi sebelum kita menjumpai Ubay untuk mendapatkan keterangannya!”, ujar ‘Umar sembari menarik lelaki itu untuk menemui Ubay ibn Ka’b.


Ketika mereka telah sampai kepada Ubay,
maka ‘Umarpun menanyakan tentang ayat tersebut,
yang memang berbeda cara membacanya dari yang beliau fahami selama ini..

“Benar wahai Amiral Mukminin, aku yang membacakan ayat itu kepadanya dengan qiraat seperti itu sebagaimana dahulu Rasulullah telah membacakannya kepadaku!”, tegas Ubay.

“Apakah engkau bisa menghadirkan dua saksi yang adil untuk mendukung dakuanmu itu?”

“Inilah ‘Utsman ibn ‘Affan, ‘Ali ibn Abi Thalib, ‘Abdullah ibn Mas’ud, Mu’adz ibn Jabal, dan Zaid ibn Tsabit menjadi saksiku. Tak cukupkah bagimu para penulis Rasulullah dan para penghimpun Al Quran?”

“Baik”, ujar ‘Umar sembari menghela nafas dengan sesal sekaligus lega. “Hanyasaja aku dulu mengira bahwa kami para sahabat yang berhijrah telah dikaruniai derajat tinggi yang takkan dapat digapai siapapun sesudahnya."

"Maka aku membacanya dari catatanku, ‘Wassabiqunal awwaluna minal muhajirin. Wal ansharulladziinat taba’uhum bi ihsan..

Dan para terdahulu lagi mula-mula dari kalangan muhajirin. Dan orang-orang Anshar yang mengikuti para muhajirin itu dengan kebaikan.’ Tetapi dari kalian aku baru tahu, ayat itu seharusnya dibaca, ‘Wassabiqunal awwaluna minal muhajirina wal anshar, walladzinat taba’uhum bi ihsan.. Dan para terdahulu lagi mula-mula dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan..”

“Berkenankah engkau wahai Amiral Mukminin”, sela Ubay sembari tersenyum, “Kuberikan dua hujjah lagi dari Al Quran untuk menegakkan pemahaman itu, bahwa ada kaum di belakang masa yang akan Allah muliakan sebagaimana kita?”

“Tentu”, angguk ‘Umar dengan mantap.

“Dalil peneguh pertama ada dalam Surat Al Jumu’ah, ayat yang ketiga, ‘Dan juga kepada kaum yang lain daripada mereka, yang belum berhubung-jumpa dengan mereka..’

Dalil peneguh kedua ada dalam Surat Al Hasyr, ayat yang kesepuluh, ‘Dan orang-orang yang datang sesudah para Muhajirin dan Anshar, yang mereka berdoa...”

Segala puji bagi Allah, dan semoga Dia membalas kebaikan Ubay ibn Ka’b,
salah satu dari empat Mahaguru Al Quran yang ditunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dengan penjelasan beliau ketika meluruskan kesalahfahaman Sayyidina ‘Umar terfahami dua hal penting.

Pertama, bahwa para As Sabiqunal Awwalun ada dari kalangan Muhajirin maupun juga dari Anshar.

Yang kedua, -dan inilah yang amat permata bagi kita-, bahwa dimungkinkan bagi insan-insan yang hidup jauh sesudah kurun para sahabat untuk meraih karunia yang serupa dengan apa yang telah dianugrahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para As Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Allah telah ridha kepada mereka,
dan merekapun ridha kepada Allah.
Maka kita juga ridha kepada mereka semua.
Kita ridha agar kelak dihimpun bersama mereka.
Kita ridha bahwa merekalah gemintang di langit cerah yang akan memandu perjalanan kita di kehidupan dunia yang bagai malam gulita...


Senin, 02 Mei 2016

Bertemu Jodoh Lewat Bersin


Bertemu Jodoh Lewat Bersin
Bertemu Jodoh Lewat Bersin


True Story....

Kisah KH AL-Ny. Hj. SNA..
Di Magelang..

Dalam sebuah perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, tahun 1980-an..
pemuda itu bersin di kursinya..
Diapun bertahmid, “Alhamdulillaah.”
Dari seberang tempat duduknya terdengar suara lirih namun tegas, “Yarhamukallaah.”
Maka diapun menjawab, “Yahdikumullah, wa yushlihu baalakum”, lalu menoleh..
Yang dia lihat adalah jilbab putih, yang wajahnya menghadap ke jendela..

Ini tahun 1980-an..
Jilbab adalah permata firdaus di gersangnya dakwah..
Dan ucapan “Yarhamukallaah” adalah ilmu yang langka..
Keduanya terasa surgawi..


Maka bergegas, disobeknya kertas dari buku agenda & diambilnya pena dari tasnya..
Disodorkannya pada muslimah itu..
“Dik”, ujarnya, “Tolong tulis nama Bapak Anda & alamat lengkapnya.”.

Gadis itu terkejut. “Buat apa?”, tanyanya dengan wajah pias lagi khawatir..

“Saya ingin menyambung ukhuwah & thalabul ‘ilmi kepada beliau”, ujar sang pemuda. “Amat bersyukur jika bisa belajar dari beliau bagaimana mendidik putra-putri jadi Shalih & Shalihah.”

Masih ragu, gadis itupun menuliskan sebuah nama & alamat..

“Kalau ada denahnya lebih baik”, sergah si pemuda..


Beberapa hari kemudian, pemuda itu mendatangi alamat yang tertulis di kertas..

Diketuk pintunya, dia ucapkan salam..
Seorang bapak berwajah teduh & bersahaja menyambutnya..

Setelah disilakan duduk, sang bapak bertanya, “Anak ini siapa & ada perlu apa?”
Dia perkenalkan dirinya, lalu dia berkata, “Maksud saya kemari,

pertama nawaituz ziyarah libina-il ukhuwah. Saya ingin, semoga dapat bersaudara dengan orang-orang Shalih sampai ke surga.”

“Yang kedua”, sambungnya, “Niat saya adalah thalabul ‘ilmi. Semoga saya dapat belajar pada Bapak bagaimana mendidik anak jadi Shalih dan Shalihah.”

“Yang ketiga”, di kalimat ini dia agak gemetar, “Jika memungkinkan bagi saya belajar langsung tentang itu di bawah bimbingan Bapak dengan menjadi bagian keluarga ini, saya sangat bersyukur. Maka dengan ini, saya beranikan diri melamar putri Bapak.”


“Lho Nak”, ujar si Bapak,
“Putri saya yang mana yang mau Anak lamar? Anak perempuan saya jumlahnya ada 5 itu?”

“BismiLlah. Saya serahkan pada Bapak, mana yang Bapak ridhakan untuk saya. Saya serahkan urusan ini kepada Allah dan kepada Bapak.

Sebab saya yakin, husnuzhzhan saya, bapak sebagai orang Shalih, juga memiliki putri-putri yang semua Shalihah.”


“Lho ya jangan begitu. Lha anak saya yang sudah Anda kenal yang mana?”
“Belum ada Pak”, pemuda itu nyengir..

Orangtua itu geleng-geleng kepala sambil tersenyum bijak. “Sebentar Nak”, kata si Bapak,

“Lha Anda bisa sampai ke sini, tiba-tiba melamar anak saya itu ceritanya bagaimana?”

Pemuda itupun menceritakan kisah perjumpaannya dengan putri sang Bapak di Kereta. Lengkap dan gamblang.

Sang bapak mengangguk-angguk. “Ya kalau begitu”, ujar beliau, “Karena yang sudah Anda nazhar (lihat) adalah anak saya yang itu, bagaimana kalau saya tanyakan padanya kesanggupannya,apakah anak juga ridha padanya?”


Pemuda itu mengangguk dengan tersipu malu..

Singkat cerita, hari itu juga mereka diakadkan,
dengan memanggil tetangga kanan-kiri tuk jadi saksi.


Maharnya?
Pena yang dipakai pemuda itu meminta alamat sang Bapak pada gadis di kereta yang akhirnya jadi isterinya, ditambah beberapa lembar rupiah yang ada di dompetnya.


Hingga kini mereka dikaruniai 6 putra-putri.
Satu putra telah wafat karena sakit setelah mengkhatamkan hafalan Qurannya.
Lima yang lain, semua juga menjadi para pemikul Al Quran.


Pasangan yang tak lagi muda itu,
masih suka saling menggoda hingga kini.
Itu tak lain, karena sang suami memang berpembawaan lucu.

“Salim”,(bkn nama sebenarnya) ujarnya pada suatu hari, “Bibimu ini lho, cuma saya bersin-i saja jadi istri. Lha coba kalau saya batuk, jadi apa dia!” Saya terkekeh.

Dan lebih terbahak ketika bibi saya itu mencubit perut samping suaminya. “Kalau batuk”, ujar Hafizhah Qiraat Sab’ah ini, ingin bercanda tapi tak dapat menahan tawanya sendiri,

 “Mungkin beliau jadi sopir saya!”


Ya Allah.... jagalah mereka, sebab mereka menjaga KitabMu di sebuah pesantren sederhana di pelosok negeri ini...


—— :: Misteri jodoh itu unik kawan. Lagi gak nyari,
eh malah ketemu.
Pas nyari sampai bertahun-tahun,
eh gak cocok aja..
Jodoh itu sudah ditakdirkan, jadi gak perlu risau, galau, parau.melau...

Kisah Dibalik Kata "BAHLUL"

Nama BAHLUL
Kisah Dibalik Kata "BAHLUL"


" BAHLUL " 


"Bahlul" adalah kata yang biasa kita gunakan untuk mensifati orang yang bodoh, 

tapi dari mana asal kata itu.....??????


Siapa BAHLUL?
Nama BAHLUL


Dikisahkan, 
sesungguhnya BAHLUL seorang yang dikenal sebagai orang gila di zaman Raja Harun Al-Rasyid (Dinasti Abbasiyah)...

Pada suatu hari Harun Al-Rasyid lewat di pekuburan, 
dilihatnya Bahlul sedang duduk disana..

Berkata Harun Al-Rasyid kepadanya : "Wahai Bahlul, bilakah kamu akan berakal.. ?", 

Mendengar itu Bahlul beranjak dari tempatnya dan naik keatas pohon, lalu dia memanggil Harun Al-Rasyid dengan sekuat suaranya dari atas pohon, 
" Wahai Harun yang gila, bilakah engkau akan sedar....? ", 

Maka Harun Al-Rasyid menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya dan berkata : "Siapa yang gila, aku atau engkau yg selalu duduk dikuburan....?". 

Bahlul berkata : "Aku berakal dan engkau yang gila", 

Harun : "Bagaimana itu bisa...?", 

Bahlul : "Karena aku tau bahwa istanamu akan hancur dan kuburan ini akan tetap ada, maka aku memakmurkan kubur sebelum istana, dan engkau memakmurkan istanamu dan menghancurkan kuburmu, sampai- sampai engkau takut untuk dipindahkan dari istanamu ke kuburanmu, padahal engkau tahu bahwa kamu pasti masuk dalam kubur, maka katakan wahai Harun siapa yang gila di antara kita...?". 

Bergetarlah hati Harun, 
lalu menangis dengan tangisan yang sampai membasahi jenggotnya, 

lalu Harun berkata : "Demi ALLAH engkau yang benar, Tambahkan nasehatmu untukku wahai Bahlul". 


Bahlul : "Cukup bagimu Al-Qur'an maka jadikanlah pedoman". 

Harun : "Apa engkau memiliki permintaan wahai Bahlul....? Aku akan penuhi". 

Bahlul : "Iya aku punya 3 permintaan, jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu". 

Harun : "mintalah..." Bahlul : 

Bahlul : 1. "Tambahkan umurku". 

Harun : "Aku tak mampu", 

Bahlul: 2. "Jaga aku dari Malaikat maut". 

Harun : "Aku tak mampu", 

Bahlul: 3. "Masukkan aku kedalam surga dan jauhkan aku dari api Neraka". 

Harun : "Aku tak mampu". 


Bahlul : "Ketahuilah bahwa engkau dimiliki (seorang hamba) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak perlu padamu". 



*Kisah ini dikutip dari kitab yang berjudul عقلاء ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ 
"Orang-orang Gila Yang Berakal" 


Tetapi kita menggunakan perkataan BAHLUL untuk mengatakan seseorang itu bodoh sedangkan ia adalah merupakan nama Ulama yang hebat

UntukMu Sahabat Dunia AkhiratKu

Apakah hidupmu hanya menanti jodoh,rezeki dan hanya galau karena menanti cinta yang tak pasti ?
sholat mengikuti sunnahNya dan membaca Alqur'an, niscaya hati menjadi tenang. Namun coba baca yang dibawah ini .. Hidup ini tak lain hanyalah PENANTIAN.
MENANTI sholat dan disholatkan.
.
UntukMu Sahabat Dunia AkhiratKu

Berapa ramai kita hidup dalam fatamorgana dunia?
sedang kain kafan kita sedang ditenun.

=============================

untukmu yang tercinta, sahabat..
mungkin sekarang, kita bebas berjumpa,
menggerai tawa bersama,
berbagi cerita ceria,

Tak kan kubiarkan seseorang membuatmu terluka,
kan kupastikan kamu slalu bahagia,

Sahabat,
aku hanya berpesan,
jangan pernah tinggal sholat,
jangan lupa slalu bermunajat,
jangan lupa bertaubat,

hidup ini singkat sahabat,
mungkin hari ini kita slalu bersama,
slalu bertemu dalam doa,
slalu berbagi bersama,
tapi..
aku mohon..
jangan marah,
apabila kelak di padang mahsyar,
aku tak menyapamu..

jangan marah,
apabila kelak dipadang mahsyar,
aku tak berada disampingmu meski hanya sekedar menenangkanmu,

jangan marah,
bila ketika dipadang mahsyar..
aku sudah tak mengenalimu,

jangan marah,
Apabila kelak dipadang mahsyar,
aku sudah sibuk dengan dosaku sendiri,

jangan marah..
bila kelak dipadang mahsyar,
aku hanya sekedar lewat tanpa melihatmu..

UntukMu Sahabat Dunia AkhiratKu

bukan..
bukan berarti aku melupakanmu.
bukan berarti aku sudah tak menyayangimu.
bukan berarti aku sombong.
melainkan.. disaat itulah aku sudah berada dibatas waktuku.
karena aku yakin, engkau juga kan begitu.

Tapi, meski akan ada masa itu..
aku slalu membingkai senyummu dengan frame terindah dihatiku..
kutulis namamu dalam surat terindah digenggamanku..

bukankah kau juga begitu?

Bolehkah ku meminta satu permintaan padamu?

apabila kamu kelak disyurga dan tak menemuiku disana,
mohon tanyakanlah pada Allah tentang keberadaanku.
dan carilah aku dineraka lalu keluarkanlah aku dari sana (cry emoticon)
ku harap kamu mau melakukannya, wahai sahabat dunia akhiratku..Aamiin